<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599533476917537716</id><updated>2011-09-09T20:32:55.312+09:00</updated><category term='Pluralisme Agama'/><category term='Puisi'/><category term='Sejarah'/><category term='Sosial'/><category term='Other Side'/><title type='text'>::::Lopuhaa______</title><subtitle type='html'>"kupas deng parang ampa"</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://lopuhaa.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599533476917537716/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lopuhaa.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Agus Lopuhaa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08707657824390767254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_Euu8TTQjEkw/SRqBK8H5dhI/AAAAAAAAAA4/wwqeGvzZoxw/S220/Love+Us.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>21</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599533476917537716.post-7446833366156914386</id><published>2010-08-10T00:33:00.003+09:00</published><updated>2010-08-10T00:48:36.161+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pluralisme Agama'/><title type='text'>ES PISANG IJO TANTE IJAH</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Memasuki bulan Ramadhan, teringat masa kecil di kota kelahiran, Masohi. Masa-masa yang mengasikan dan penuh makna. Ahmad, Ucheng, Idrus, Muna, Nurbaya adalah teman-teman yang sudah menjadi bagian dari kehidupan masa kecil di antara Ony, Cello, Nus, John, Pieter, Ona, dll. Bulan Ramadhan, adalah waktu yang selalu dinanti-nantikan. Saat Ramadhan tiba, sekolah-sekolah diliburkan. Di sini, banyak kesempatan untuk bermain, mulai dari mutel sampai gawang mini. Selain itu, di bulan Ramadhan, waktu yang juga kami nantikan adalah saat sahur dan buka puasa. Sahur, sekalipun dini hari, menjadi kebiasaan kami untuk membangunkan mereka yang berpuasa, juga masyarakat. Berbekal kaleng yang diisi dengan batu-batu kerikil, kami berkeliling di sekitar pemukiman sambil meneriakan, “Sahur... sahur”. Aktifitas ini tak pernah dilarang oleh orang tua kami, sebab mereka pun tidak merasa terganggu dengan suara kami. Setelah sahur, kami kembali tidur sambil menanti fajar untuk melanjutkan aktifitas kami sebagai anak-anak, bermain. Seharian kami menikmati permainan kami, dengan tetap menghormati teman-teman kami yang berpuasa. Tidak ada rasa benci, tidak ada yang saling mengejek. Kalau kami makan, itupun dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Inilah waktu yang dinantikan, buka puasa. Keletihan, dahaga, rasa lapar seakan sirna ketika menikmati semangkuk es pisang ijo buatan Tante Ijah (ibunya Nurbaya, Ahmad, Ucheng dan Idrus). Kenikmatan es pisang ijo Tante Ijah melebihi rasa es pisang ijo pemuda. Apalagi ditambah dengan ‘asidah’ buatan tangannya, seakan dunia hanya menjadi milik kami. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kenyataan yang kita hadapi saat ini, agama-agama hidup dalam prasangka negatif satu dengan yang lain, saling curiga, saling menghina, atas nama Tuhan dan agama cenderung melakukan kekerasan, saling mengklaim bahwa dirinya yang paling benar dan yang lain tidak, dan sebagainya. Parade agama-agama saat ini, seakan menunjukkan wajah agama yang kesetanan, jauh dari perdamaian. Peradaban manusia saat ini, sangat membutuhkan kembali hadirnya agama  dengan paradigma moral. Agama yang sanggup menggairahkan inisiatif umat dalam pemberdayaan demi terwujudnya kehidupan masyarakat yang beradab dan sejahtera; suatu masyarakat yang berpondasikan penghormatan akan HAM maupun demokrasi. Agama dengan paradigma moral yaitu agama yang memiliki visi memanusiakan manusia seutuhnya. Dalam hubungan dengan itulah peradaban manusia dewasa ini mendambakan agama yang berkemampuan memberdayakan keutuhan manusia. Agama secara fungsional mampu menjembatani jurang ritual dengan moral-spiritual warganya. Agama yang secara aktif menjadi lokomotif dalam menentukan arah peradaban manusia, pengembangan disiplin ilmu untuk percepatan diakhirinya krisis kemanusiaan. Agama harus menjadi berkat bagi masyarakatnya. Cita-cita itu akan terwujud jika saja agama secara internal merekonstruksi primordialitasnya yang berpotensi memicu lahirnya konflik horosontal dalam kehidupan masyarakat. Agama yang secara terus menerus dan ikhlas belajar dari sejarah peradaban manusia yang penuh dengan lumuran darah. Cerdas dan arif dengan kenyataan besarnya saham agama dalam memicu dan melestarikan pertikaian. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Sepertinya, sikap beragama kita saat ini harus mencontohi perilaku anak-anak. Jujur, tanpa curiga, mau menerima dan bersahabat dengan orang lain, bersahaja, bertumbuh bersama dalam perbedaan, saling membantu untuk mencapai tujuan bersama, bebas dari kepentingan pribadi, dan sebagainya. Kalaupun ada konflik, tidak pernah berlarut-larut dan menjadi dendam, karena saat itu juga saling ‘baku bae’ satu dengan yang lain. Saat ini, Ramadhan tiba lagi. Penantiannya tidak lagi seperti masih kanak-kanak. Yang dinanti saat ini adalah siraman-siraman rohani yang menyejukkan kalbu, untuk hidup yang lebih baik dan bermartabat. Kerinduan akan siraman rohani itu bagaikan dahaga yang tertahan selama seharian, tetapi kemudian terpuaskan ketika menikmati semangkok es pisang ijo Tante Ijah. Marhaban Ya Ramadhan, sambut bulan penuh hikmah dengan hati dan jiwa yang bersih.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Read More&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599533476917537716-7446833366156914386?l=lopuhaa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lopuhaa.blogspot.com/feeds/7446833366156914386/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lopuhaa.blogspot.com/2010/08/es-pisang-ijo-tante-ijah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599533476917537716/posts/default/7446833366156914386'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599533476917537716/posts/default/7446833366156914386'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lopuhaa.blogspot.com/2010/08/es-pisang-ijo-tante-ijah.html' title='ES PISANG IJO TANTE IJAH'/><author><name>Agus Lopuhaa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08707657824390767254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_Euu8TTQjEkw/SRqBK8H5dhI/AAAAAAAAAA4/wwqeGvzZoxw/S220/Love+Us.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599533476917537716.post-4518980277546654785</id><published>2010-08-06T00:35:00.001+09:00</published><updated>2010-08-06T00:43:04.051+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pluralisme Agama'/><title type='text'>POSTMODERNISME: Kritik Terhadap Modernisme</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; font-size: small;"&gt; Istilah postmodernisme pertama kali diperkenalkan oleh filsuf Jerman, Rudolf Pannwitz, pada tahun 1917, untuk menggambarkan nihilisme budaya barat abad ke-20. Istilah ini pertama kali muncul pada bidang seni dan kemudian juga arsitektur, ketika perumahan Pruitt-Igoe di St. Louis dihancurkan dengan dinamit dan dimulailah pengembangan karya-karya arsitektur yang berwajah baru. Postmodernisme lahir sebagai kritik atas modernisme, yang sangat berpegang kepada fundamentalisme dogmatis atau fudamentalisme epitemilogis. Keyakinan fundamental/fondasional menjadi syarat utama untuk membenarkan pengetahuan yang dibangun di atasnya. Keyakinan-keyakinan tidak bersifat sirkuler, namun harus sampai pada satu titik aksiomatis, yang tidak membutuhkan pembenaran apapun. Jelas rasiolah yang mampu mengerjakannya dengan teliti, rasio adalah pusat. Kebenaran (truth) adalah persesuaian antara sesuatu dengan fondasinya dan sekaligus persesuaian antara akal dan kenyataan yang dicermati, antara subjek yang mengamati dan objek yang teramati. Fondasionalisme/fundamentalisme menyimpan sebuah kepastian bahwa dasar mutlak tersebut tidak terikat pada ruang dan waktu hidup manusia. Ia harus a-historis agar tetap mampu menjadi fondasi ilmu dan segi-segi hidup lainnya. Kebenaran adalah absolut dan mengabaikan dialog yang jujur dengan wacana historis dan sosial. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; font-size: small;"&gt;Kritik postmodernisme terhadap fundamentalisme/fondasionalisme mengemukakan bahwa kriteria kebenaran adalah koherensi atau hubungan pertalian dan pengesahan pernyataan seseorang oleh komunitas. Kebenaran amat terkait dan terikat pada kenyataan sosial. Tidak pernah ada kebenaran yang fondasional, metafisis dan independen, yang lepas dari kenyataan sosial. Usaha untuk mencapai kepastian transenden, bagi kaum fondasional, justru membuat manusia berusaha menjadi Allah dan lari dari batas-batas kemanusiaanya sendiri. Kritik postmodernisme, harapan manusia untuk menjadi apa saja harus diputuskan, selain menjadi manusia saja.  Komunitas menjadi sangat penting artinya. Jati diri manusia mendapat tempat yang otentik dalam hidup bersama. Komunitas menolak kesatuan, penyeragaman, dan kesamaan mutlak. Yang ada adalah ke-lain-an (otherness) dan kepelbagaian (diversity). &lt;br /&gt;Semangat postmodern merambah pula sampai pada bidang ilmu teologi. Istilah postmodernisme di bidang teologi pertama kali digunakan di Inggris pada tahun 1933 oleh Bernard Iddings Bell, seorang teolog yang berusaha mengetengahkan kegagalan modernisme sekuler dan kembalinya agama dalam kehidupan manusia. Teologi postmodernisme mengacu pada dua isu, yaitu: pertama, komunalitas hidup. Teologi postmodernisme membebaskan manusia yang terasing dari manusia yang berkuasa dan kemudian menempatkan mereka secara bersama-sama dalam kesejajaran. Komunitas-komunitas basis yang selama ini terasing, diperkuat kembali. Manusia hidup dalam konteksnya sehingga fungsi akal budi harus dibarengi dengan aksi atau praksis terhadap kenyataan sosial yang dihadapi.  Persoalan komunalitas berimbas kepada oikumene. Jika oikumene dipahami sebagai seluruh bumi yang didiami, maka terdapat dua arah teologis yang perlu dikembangkan, yaitu teologi oikumene yang berwawasan ekologis, yang menempatkan manusia dalam konteks lingkungan semesta, dan perlu dikembangkan sebuah teologi oikumene yang melihat kehadiran sesama yang beriman lain dalam konteks dunia yang satu ini. &lt;br /&gt;Isu kedua dari teologi postmodernisme adalah makna dan kebenaran. Ide pluralitas bukan hanya dalam diskursus mengenai wacana suci namun juga tentang Allah sendiri, sungguh memberi kemungkinan teologis yang besar bagi sebuah theologia religionum yang sehat. Seringkali penganut eksklusivis menuduh kaum pluralis mengabaikan keunikan dalam agama-agama. Bagi kaum pluralis, keunikan agama-agama adalah sebuah keunikan relasional. Artinya, mengakui kebenaran yang diyakini bersifat relatif di tengah arena agama-agama lain, tidak serta-merta mengabaikan keunikan kebenaran agama, namun sebaliknya, mengakui keunikan kebenaran itu dalam relasi dengan agama lain. Sehingga interpertasi-interpertasi bukan didasarkan kepada sesuatu yang sifatnya universal, namun interpertasi sangat terikat dengan kondisi kultural, kontekstual dan historis di mana manusia berada. Oleh karena itu, manusia perlu disadarkan sehubungan dengan proses interpertasi kebenaran, bahwa [1] munculnya beragam interpertasi; [2] pentingnya menghargai interpertasi pihak lain; [3] menyadari keterbatasan interpertasinya sendiri. Disinilah terjadi pemindahan pemikiran, dari sesuatu yang sifatnya metafisika kepada interpertasi yang membebaskan.[] &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Read More&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599533476917537716-4518980277546654785?l=lopuhaa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lopuhaa.blogspot.com/feeds/4518980277546654785/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lopuhaa.blogspot.com/2010/08/postmodernisme-kritik-terhadap.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599533476917537716/posts/default/4518980277546654785'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599533476917537716/posts/default/4518980277546654785'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lopuhaa.blogspot.com/2010/08/postmodernisme-kritik-terhadap.html' title='POSTMODERNISME: Kritik Terhadap Modernisme'/><author><name>Agus Lopuhaa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08707657824390767254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_Euu8TTQjEkw/SRqBK8H5dhI/AAAAAAAAAA4/wwqeGvzZoxw/S220/Love+Us.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599533476917537716.post-672746681147947953</id><published>2010-07-22T21:15:00.003+09:00</published><updated>2010-08-06T00:42:15.306+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Other Side'/><title type='text'>Book Review:  DILARANG MELARAT (Narasi Teologis Tentang Kemiskinan), Michael Tylor.</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_Euu8TTQjEkw/TEg179-O3KI/AAAAAAAAAEM/-aNHmNLQK4M/s1600/21072010.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img height="320" src="http://4.bp.blogspot.com/_Euu8TTQjEkw/TEg179-O3KI/AAAAAAAAAEM/-aNHmNLQK4M/s320/21072010.jpg" width="209" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Buku ini didasari pada suatu perjalanan spiritual dari penulis, dalam perjumpaannya dengan realitas kemiskinan di Afrika, maupun bencana alam di Bangladesh. Kenyataan dalam perjumpaan ini melahirkan tantangan bagi iman Kristen, tentang bagaimana kekristenan menjawab persoalan kemiskinan dimaksud. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Tylor membahasakan apa yang dijumpai di Afrika sebagai “membiasanya penderitaan” (&lt;i&gt;normality of suffering&lt;/i&gt;). Ungkapan ini lahir dalam perjumpaan dengan masyarakat yang memahami bahwa apa yang dialami oleh mereka dalam realitas kemiskinan, bukan merupakan suatu penyimpangan, melainkan telah menjadi suatu kebiasaan. Kamp-kamp pengungsian yang penuh dengan penyakit, kelaparan dan kematian adalah suatu kewajaran, sekalipun orang luar menganggap bahwa apa yang dialami mereka merupakan penderitaan akibat kemiskinan dan bencana alam. Tylor lalu menilai apa yang ia sebutkan sebagai membiasanya penderitaan tak lepas dari pengaruh doktrin Kristen. Ada dua doktrin Kristen yang turut menciptakan situasi ini, yakni teodise dan dosa. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Teodise adalah pemahaman bahwa Allah menggunakan kejahatan, penderitaan dan sebagainya sebagai cara Allah menunjukkan cinta-Nya kepada manusia. Konteks membiasanya penderitaan, lalu dipahami sebagai cara Allah memperkenalkan diri-Nya. Penguatan terhadap konsep teodise ini banyak dilakukan oleh para teolog barat, dengan alasan bahwa dalam konteks kemiskinan kabar baik bagi orang-orang miskin dapat diberitakan. Tylor tidak setuju dengan pemahaman seperti ini, sebab bagi dirinya, teodise justru akan terus memenjarakan manusia dalam realitas kemiskinan. Ia justru lebih setuju dengan teolog-teolog selatan yang memandang bahwa Allah adalah sesuatu yang sangat kontekstual. Allah yang kontekstual memberikan ruang untuk menyatakan karya-karya pembebasan Allah di dunia. Allah juga memampukan manusia untuk mengatasi kondisi dunia yang rusak. Manusia diberikan tanggung jawab untuk mencipta. Artinya, melakukan pembaruan atas alam dan mengatasi kemiskinan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Doktrin yang kedua adalah dosa. Dalam penilaian Tylor, konteks membiasanya penderitaan selalu dihubungkan dengan dosa. Oleh karena kemiskinan adalah dosa, maka yang harus dilakukan adalah pertobatan. Bagi Tylor, pemahaman ini terpola dari pandangan teolog barat yang memandang Allah sebagai yang sakral. Manusia yang berdosa harus bertobat dihadapan Allah. Paham seperti ini sesungguhnya telah menjauhkan kekristenan dari realitas sosial. Kekristenan hanya berorientasi kepada kesakralan, menjaga kekudusan tetapi mengabaikan tanggung jawab sosialnya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Ia lalu merumuskan tentang sikap kristiani dalam menghadapi konteks membiasanya penderitaan. Satu hal yang harus dilakukan oleh kekristenan adalah “partisipasi radikal”. Partisipasi radikal berarti keterlibatan secara aktif untuk melakukan tugas-tugas pembebasan bagi masyarakat miskin. Tylor mengungkapkan, partisipasi Kristen melibatkan pula berbagai elemen dalam masyarakat, yakni para ahli dan orang awam, akademisi, pemerintah, politisi dan mereka yang terlibat secara aktif dalam dialog antar iman. Sikap kristiani yang demikian menunjukkan tentang sebuah sikap nyata kekristenan yang peduli dengan realitas kemiskinan. Kekristenan harus memiliki, apa yang disebut Tylor, &lt;i&gt;rule of thumb&lt;/i&gt; yaitu melihat, menilai dan bertindak. Sehingga kekristenan tidak hanya terjebak dalam membangun doktrin tentang kemiskinan, tetapi sikap nyata untuk mengatasi kemiskinan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Tawaran partisipasi radikal yang diberikan oleh Tylor adalah tawaran yang sangat positif. Kekristenan harus berada dalam lingkaran hermeneutik: aksi – refleksi – aksi dan seterusnya. Iman Kristen bukan berada dalam dunia yang transenden, tetapi imanen. Sebagaimana Yesus sendiri adalah Allah yang imanen dan melakukan tugas-tugas pembebasan bagi manusia yang tertindas. Iman Kristen tidak bisa dijauhkan dari kenyataan dunia. Peran sosial gereja harus benar-benar menyentuh masyarakat yang menderita, tidak sekedar membangun doktrin yang membuat gereja jauh dari kenyataan dunia. Oleh karenanya, perlu ada dekonstruksi terhadap budaya kekristenan yang masih berorientasi pada menjaga kesakralan dan kekudusan dalam realitas kemiskinan. Teodise dan dosa, seakan-akan menjadi hukuman bagi mereka yang hidup dalam kemiskinan. Doktrin Kristen seperti ini telah melemahkan peran sosial gereja. Allah lalu dijadikan sebagai kambing hitam atas realitas kemiskinan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Read More&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599533476917537716-672746681147947953?l=lopuhaa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lopuhaa.blogspot.com/feeds/672746681147947953/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lopuhaa.blogspot.com/2010/07/book-review-dilarang-melarat-narasi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599533476917537716/posts/default/672746681147947953'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599533476917537716/posts/default/672746681147947953'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lopuhaa.blogspot.com/2010/07/book-review-dilarang-melarat-narasi.html' title='Book Review:  DILARANG MELARAT (Narasi Teologis Tentang Kemiskinan), Michael Tylor.'/><author><name>Agus Lopuhaa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08707657824390767254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_Euu8TTQjEkw/SRqBK8H5dhI/AAAAAAAAAA4/wwqeGvzZoxw/S220/Love+Us.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Euu8TTQjEkw/TEg179-O3KI/AAAAAAAAAEM/-aNHmNLQK4M/s72-c/21072010.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599533476917537716.post-5468708610971505238</id><published>2010-07-16T00:27:00.002+09:00</published><updated>2010-07-16T00:31:20.547+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sosial'/><title type='text'>KEKAISARAN, POSTKOLONIAL DAN STUDI ALKITAB</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Pengujian terhadap teks yang berkonotasi kolonial atau pertanyaan terhadap penafsiran yang bertujuan kolonial tidak semuanya baru. Roy Sano, seorang penulis Asia-Amerika di tahun 1979-an, memberikan pengakuan tentang bagaimana kategori kekaisaran dalam pikiran dan tindakan orang-orang kristen. Mereka berbicara tentang fakta-fakta kejahatan dan sekalipun mereka berbicara tentang institusi atau kejahatan yang tersistematis, mereka telah gagal menggunakan kategory kekaisaran sebagai prinsip organisasi, banyak kehilangan kedudukan kekuasaan di negara mereka. Roy Sano juga berbicara dari perspektif kehidupan suatu komunitas yang tersebar; suatu komunitas dengan status sebagai pendatang di Amerika. Mereka digambarkan dengan wajah-wajah negatif sebagai imigran. Sano merujuk kepada cerita-cerita Alkitab mengembalikan status mereka dari ketidakpastian. Ia lalu menggunakan Rut dan Ester sebagai tokoh yang berhasil memperbaharui indentitas mereka, sekalipun hal itu sangat beresiko bagi kehidupan mereka. Sano juga menemukan dalam tulisan-tulisan apokaliptik tentang peranan para nabi dalam dua hal, yakni kemapanan nation-state dan memiliki akses kepada kekuasaan. Tulisan-tulisan apokaliptik ini di satu sisi sesuai dengan para imigran sebab tulisan-tulisan ini dimunculkan pada sejarah Israel saat mereka kehilangan kedaulatan sebagai suku bangsa. Sano berpikir, hal ini dapat memberikan kesadaran baru bagi orang Asia-Amerika. &lt;br /&gt;Dengan cara yang serupa, Samuel Rayan, seorang teolog berkebangsaan India di tahun 1980-an meninjau implikasi hermeneutik dari politik, budaya, dan imperialisme ekonomi oleh USA, Rusia, Eropa dan Jepang. Ia melihat kembali kepada Yesus dengan orang-orang Roma. Rayan mengakui bahwa Yesus tidak menciptakan konflik dengan penguasa Roma, tetapi kemarahannya secara langsung ditujukan kepada penjajahan orang-orang Israel yang berkolaborasi dengan kekaisaran Roma. Dalam studinya tentang peristiwa tribute-money, Rayan menampilkan bagaimana pada saat puncak kolonialisme modern, penafsiran alkitab ditujukan kepada sikap anti Zelot dan pro Roma, kemudian selama periode dekolonisasi setelah Perang Dunia II, dianjurkan sikap anti imperialisme dan penegasan terhadap kebebasan. &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Para teolog belum memberi hubungan antara penjelajahan Eropa dan munculnya disiplin mereka. Lebih penting lagi, menjadi kritik teologi dari kekuasaan, terutama diantara para teolog Inggris. Tepatnya pada tahun 1960an ketika proses penaklukan mengambil alih, teolog barat menghabiskan pikiran mereka pada masalah seperti sekularisasi dan dampaknya pada iman Kristen. Mereka masih tetap tiba untuk menilai peran Barat dalam dominasi kolonial. Kekristenan di Asia dan Afrika dihubungan dengan politik, ekonomi dan kebudayaan jaman dulu yakni penyerangan dari barat. Pendirian ini adalah serangan pada imperialisme yang sudah benar-benar tidak dipahami, dan di situ, tidak bisa begitu saja dihilangkan sebagai sebuah keegoisan yang tersusun. Untuk mencapai sebuah pengetahuan sejati tentang kolonialisme, harus melihat dan menghargai contoh kongkrit dari keuntungan yang dibawa untuk orang-orang pribumi daripada membicarakan imperialisme sebagai suatu dugaan abstrak untuk mempelajari subjek itu. Imperialisme harus dievaluasi secara keagamaan pada istilah tujuan Tuhan dalam sejarah, yang diantara hal-hal lain adalah untuk membawa umat manusia ke pengetahuan sejati dari Dia yang adalah cinta, kekuatan dan keadilan. Imperialisme dibentuk sebagai pembuktian dari Tuhan untuk menciptakan hukum dan pemerintahan dalam mempersatukan semua orang di abawah naungan kekuasaan. Selain menjadi rakyat dari sebuah suku, apa yang diperintahkan dalam pemerintahan kolonial adalah sebuah kesempatan untuk menjadi warga dunia. Studi Musa W. Debe terhadap Injil Yohanes, misalnya, menggambarkan tentang ada suatu desakan umum yang mengikat diantara para teolog untuk membaca teks yang terisolasi dari modernitas dan struktur kontemporer internasional. Meskipun dengan alasan mengikuti yang disebut post-kolonial dengan membaca Yohanes dan Alkitab secara keseluruhan. Pertama. Pengakuan secara umum bahwa Alkitab telah menggunakan berbagai pengaruh budaya melebihi dokumen manapun. Kedua. Pada kenyataannya Negara-negara barat Kristen adalah pusat imprealis yang menjajah dunia termasuk teks-teks budaya dan alat dominasi lainnya. Ketiga. Sejarah gereja modern menunjukan misi Kristen dan institusi dan agen-agen penjajahan telah bekerja sama dengan lancar dalam dunia modern dan kololonialisme kontemporer. Para pembaca telah terpanggil untuk menyelidiki keterhubungan antara idologi biblis dengan struktur kontemporer internasional. Terakhir dan lebih spesifik, misi dari penyelidikan biblis telah mengindikasikan bahwa Injil Yohanes termasuk teks yang paling berpengaruh. &lt;br /&gt;Begitu pula dengan apa yang ditemukan oleh Randall C. Bailey dan Richard A. Horsley, dalam konteks Afrika. Pandangan kolonialisme bahwa budaya Afrika dengan praktek ilmu hitam, ritual pembunuhan dan perang suku tidak akan menyiapkan orang-orang Afrika untuk menghadapi dunia modern. Untuk membenarkan klaim penginjilan ini, disebutkan contoh-contoh dari Alkitab sebagai bukti bahwa Tuhan bekerja dalam dan pada tujuan yang besar, dengan menggunakan kekuatan kekuasaan pada masa lalu. Tetapi konsentrasi kekuatan dalam pandangan ini adalah sebuah alternatif positif yang lebih baik dari pada ketidakbiasaan yang berlaku pada kolonial sebelumnya; perkenalan dari ketertiban orang Roma, kontrol dan konsolidasi (penggabungan) kekuatan adalah alat untuk menegakan keadilan. Pemerintahan dari kekaisaran adalah keagamaan. Jika ada kesalahan dalam pemerintah, itu semata-mata karena imperialisme adalah sebuah kegiatan kemerosotan kemanusiaan. &lt;br /&gt;Postkolonial harus membaca Alkitab dengan mengelompokan teks biblis, interpretasi-interpretasi, para pembaca, institusi-institusi, sebagai mencari jalan membaca kebebasan dari saling ketergantungan. Pembebasan saling ketergantungan meminta kemauan yang berlipat ganda dari bagian para pembaca : pertama. Mengajukan pemahaman biblis sebagai dekolonialisasi tendensi imprealis dan desain-desain naratif yang menekan. Kedua. Mengajukan pemahaman yang disoroti oleh teks biblis dan Yesus. &lt;br /&gt;Postkolonialisme telah memampukan kita yang berasal dari koloni para penjajah di masa lalu untuk memandang diri kita secara berbeda. Ia menolong kita untuk bergerak melampaui pemikiran dalam bentuk pasangan-pasangan yang kontras satu sama lain: “kita” dan “mereka”, “Timur” dan “Barat.” Dualitas semacam ini telah mereduksi setiap orang menjadi sebuah entitas yang tidak terbedakan. Postkolonialisme menolong kita membebaskan diri kita dari batas-batas yang kaku. Setidak-tidaknya ia membuang sindrom korban dari pada kita. Secara positif ia mencegah penafsiran dari menjadi terlalu nativistic (kepribumian) dan nasionalistik. Negatifnya, postkolonialisme tidak membawa kita lebih jauh karena terlalu berputar pada pencarian teori dan keasyikan dengannya. Kita lupa bahwa kegunaan postkolonialisme yang khas ada pada kapasitasnya untuk mendeteksi penindasan, menelanjangi misrepresentasi dan mempromosikan suatu dunia yang lebih adil.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Read More&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599533476917537716-5468708610971505238?l=lopuhaa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lopuhaa.blogspot.com/feeds/5468708610971505238/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lopuhaa.blogspot.com/2010/07/kekaisaran-postkolonial-dan-studi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599533476917537716/posts/default/5468708610971505238'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599533476917537716/posts/default/5468708610971505238'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lopuhaa.blogspot.com/2010/07/kekaisaran-postkolonial-dan-studi.html' title='KEKAISARAN, POSTKOLONIAL DAN STUDI ALKITAB'/><author><name>Agus Lopuhaa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08707657824390767254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_Euu8TTQjEkw/SRqBK8H5dhI/AAAAAAAAAA4/wwqeGvzZoxw/S220/Love+Us.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599533476917537716.post-3054241811035605539</id><published>2010-03-07T10:01:00.000+09:00</published><updated>2010-03-07T10:01:59.053+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pluralisme Agama'/><title type='text'>Teologi Pluralis John Hick</title><content type='html'>Bab keempat dalam buku God Has Many Names karya John Hick barangkali merupakan yang paling krusial diantara bab-bab lainnya. Bab itu diberi judul ‘Whatever Path Men Choose is Mine’, yang di akhir uraiannya dijelaskan bahwa ungkapan itu dikutipnya dari Bhagavad Gita yang diterjemahkan oleh R. C. Zaehner. Dalam bab ini, John Hick meletakkan dasar-dasar pemikiran yang mendasari bangunan pluralisme miliknya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hick memulai uraiannya dengan mengungkapkan pandangannya terhadap dunia Barat-Kristen tempat ia hidup dan pandangannya terhadap umat beragama lainnya. Menurutnya, masyarakat Barat telah hidup dalam batas-batas budaya Kekristenan (the cultural borders of Christendom) dan batas-batas kerohanian yang dibuat oleh Gereja (the ecclesiastical borders of the Church). Dari sini, Barat-Kristen mengirimkan misionarisnya ke seluruh penjuru dunia untuk mengkristenkan dunia yang kurang beruntung (karena belum dikristenkan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, lanjutnya, masyarakat Barat juga sudah mulai menyadari hal lain seiring meluasnya pergaulan di dunia internasional. Sementara populasi umat Kristen terus bertambah, prosentase umat Kristen di dunia justru terus menurun. Ini terjadi karena ledakan jumlah penduduk yang lebih banyak terjadi di luar peradaban Barat-Kristen daripada di dalamnya. Hal ini membuat Hick bertanya-tanya: apa benar Tuhan berkehendak agar seluruh umat manusia menjadi Kristen?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;John Hick melanjutkan uraiannya pada sebuah fakta lain. Menurutnya, sebagian besar (menurut Hick adalah sebesar 98 atau 99 persen) manusia memeluk agama sesuai dengan tempat kelahirannya. Jika seseorang lahir dari orang tua Muslim di Mesir atau Pakistan, maka kemungkinan besar ia akan menjadi Muslim hingga akhir hayatnya. Demikian juga jika seseorang lahir dari orang tua yang beragama Budha di Sri Lanka atau Burma, maka besar kemungkinan ia akan terus menjadi umat Budha. Menurut Hick, para teolog (pemuka agama) di masa lalu gagal memahami fenomena ini sehingga berpendapat bahwa keselamatan yang diberikan oleh Tuhan hanya terdapat dalam satu untaian saja dalam hidup manusia, yaitu sebagaimana yang tertulis dalam kitab suci umat Kristiani.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sekarang ini, toko-toko buku telah dipenuhi oleh buku-buku yang membahas masalah sejarah agama, fenomenologi agama dan studi perbandingan agama. Menurut John Hick, hanya orang yang memilih untuk tidak mau tahu (ignorant) sajalah yang bisa membanggakan ketidaktahuannya tentang agama-agama selain yang dianutnya. Hick mengejek Parson Thwackum yang pada abad kedelapan belas pernah berkata: “When I mention religion, I mean the Christian religion; and not only the Christian religion, but the Protestant religion; and not only the Protestant religion, but the Church of England.” (“Jika saya menyebut agama, maksud saya adalah agama Kristen; dan bukan sekedar agama Kristen, melainkan agama Protestan; dan bukan sekedar Protestan, melainkan Gereja Inggris.”)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal paling penting yang seharusnya membuka mata peradaban Barat-Kristen, menurut Hick, adalah imigrasi besar-besaran bangsa Asia ke Inggris yang terjadi sejak tahun 1950-an. India, Pakistan dan Bangladesh telah berkontribusi menambah populasi umat Islam, Hindu dan Sikh, sehingga Yahudi tidak lagi menjadi umat non-Kristen satu-satunya di benua Eropa. Hick mengajukan beberapa pertanyaan kepada rekan-rekannya sesama warga Barat-Kristen: Haruskah kita menolong umat Muslim, Sikh dan Hindu untuk mencari tempat untuk mereka beribadah? Perlukah kita menjual gedung-gedung gereja yang tak terpakai kepada mereka? Apakah siaran-siaran keagamaan lokal harus menyertakan mereka, atau tidak? Haruskah kita memaksa setiap siswa untuk mengikuti pelajaran agama Kristen, tanpa mempedulikan agama yang mereka dan orangtuanya anut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;John Hick kemudian mengatakan bahwa di dalam rumah-rumah peribadatan agama-agama selain Kristen sebenarnya terjadi hal yang sama dengan yang biasa terjadi di Gereja. Pada prinsipnya, di rumah-rumah peribadatan itu, manusia berkumpul bersama untuk membuka pikiran mereka terhadap sebuah realitas yang lebih tinggi (human beings are coming together to open their minds to a higher reality). “Higher reality” yang dimaksud di sini adalah Sang Pencipta dan Penguasa alam semesta, dan yang menuntut nilai-nilai moral tertentu dalam hidup manusia. Menurut pendapat Hick, perbedaannya memang bisa terlihat, namun tidak esensial. Di gereja, orang mengenakan sepatu dan tanpa topi, sedangkan di masjid, gurudwara dan kuil, orang boleh mengenakan topi namun tidak boleh mengenakan sepatu. Di sinagoga, keduanya tak boleh dikenakan. Di suatu rumah ibadah kita duduk di kursi, di rumah ibadah yang lain kita duduk di lantai. Ibadah yang satu dilakukan dengan bernyanyi, yang lain tidak. Yang satu menggunakan alat musik, yang lain tidak. Dan yang paling penting, yang mereka sembah itu disebut Tuhan (God) di dalam gereja Kristen, disebut Adonai di dalam sinagoga Yahudi, disebut Allah di dalam masjid Muslim, disebut Ekoamkar di dalam gurudwara Sikh, dan disebut Rama atau Krishna di dalam kuil Hindu. Namun lagi-lagi, menurut John Hick, peribadatan mereka secara esensial sama saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hick kemudian mengajukan sebuah pertanyaan penting setelah melihat ‘sekian banyak kesamaan’ di antara agama-agama tersebut: apakah orang-orang di gereja, sinagoga, masjid, gurudwara dan kuil itu menyembah tuhan yang berbeda-beda atau Tuhan yang sama? Apakah God, Adonai, Allah, Ekoamkar, Rama dan Krishna itu adalah tuhan yang berbeda-beda, ataukah semuanya itu hanya nama-nama yang berbeda untuk satu Dzat yang sama?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terhadap pertanyaan ini, Hick mengajukan tiga kemungkinan yang sangat penting untuk dibahas:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak tuhan di alam semesta. Namun pendapat ini terbantahkan, karena tuhan dari masing-masing agama mengaku sebagai pencipta alam semesta ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu agama menyembah Tuhan, sedangkan yang lain menyembah sesuatu yang hanya ada dalam imajinasi mereka saja. Menurut Hick, pendapat ini pun keliru, karena dalam agama Kristen sendiri terdapat banyak imej Tuhan, misalnya sebagai Tuhan yang Maha Tegas dan Maha Perkasa, berlawanan dengan imej Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dengan demikian, umat Kristen sendiri menyembah Tuhan melalui imej yang ada dalam benak mereka masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya ada satu Tuhan, yang wujud-Nya secara keseluruhan tak dapat dijangkau oleh akal manusia, sedangkan semua agama besar di dunia ini sebenarnya menyembah Tuhan yang sama, namun dengan konsep dan imej yang berbeda-beda terhadap-Nya. Menurut Hick, inilah pendapat yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, doktrin extra ecclesiam nulla salus (di luar Gereja tidak ada keselamatan) pastilah keliru. Begitu juga keputusan Konsili Florence 1438-1445 yang menyatakan bahwa tak seorang pun yang berada di luar Gereja Katolik – baik pagan, Yahudi, orang-orang kafir dan yang memisahkan diri dari Gereja Katolik – yang bisa mendapatkan hidup abadi; semuanya akan masuk ke neraka selamanya. Klaim Protestan masih lebih baik, karena mereka mengatakan bahwa tak ada keselamatan di luar Kristen. Congress on World Mission di Chicago pada tahun 1960 mengatakan bahwa sejak Perang Dunia II, lebih dari satu milyar jiwa melayang dan lebih dari setengahnya masuk neraka tanpa pernah mendengar nama Yesus Kristus, mengenali pribadinya, atau mengapa ia meninggal di tiang salib. Demikianlah cara pandang umat Kristen di masa lalu yang ditentang keras oleh John Hick. Meski demikian, Hick pesimis Gereja akan meralat dogma-dogmanya. Sebab dogma tak bisa diralat, namun bisa diinterpretasikan kembali, demi menyelamatkan muka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;John Hick kemudian mengajukan seperangkat istilah baru, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• iman yang eksplisit dan iman yang implisit (explicit and implicit faith),&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• pembaptisan dengan keinginan dan pembaptisan literal (baptism by desire and literal baptism),&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Gereja laten dan Gereja yang termanifestasi (latent Church and manifest Church),&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• orang-orang yang bertemu Tuhan melalui Yesus Kristus dan orang-orang yang baru akan bertemu dengannya di kehidupan akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan bangunan pemikiran ini, Hick berpendapat bahwa umat Muslim, Hindu, Sikh atau Yahudi yang taat pada agamanya bisa dianggap sebagai Kristen anonim (anonymous Christian). Hick mengutip Hans Kung yang mengatakan bahwa manusia akan diselamatkan oleh agama yang dimungkinkan baginya dalam situasi historis di masa hidupnya (a man is to be saved within the religion that is made available to him in his historical situation). Kung berpendapat bahwa jalan keselamatan yang ditawarkan oleh Kristen adalah jalan keselamatan yang istimewa (extraordinary way of salvation), sedangkan yang ditawarkan oleh agama-agama lain adalah jalan keselamatan yang biasa (ordinary way of salvation). Namun Hick mengkritik Kung karena ia mengatakan bahwa jalan keselamatan yang biasa adalah sebuah ‘jalan sementara’ sebelum – cepat atau lambat – mereka menerima keimanan Kristen. Ibaratnya seperti Inggris yang memberi amnesti kepada imigran gelap, Tuhan pun akan menerima semua umat beragama jika cepat atau lambat mereka menjadi Kristen sejati dengan pembaptisan yang resmi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita telah melihat bagaimana para teolog Kristen di dunia Barat memformulasikan cara untuk menemukan ruang keselamatan bagi kaum Non-Kristen, namun tetap menggunakan dogma lama. Hanya orang Kristen yang mendapatkan keselamatan; karena itu mereka mengatakan bahwa umat non-Kristen yang taat sebenarnya adalah orang Kristen juga atau akan menjadi Kristen (Christians-to-be), bahkan tanpa mereka menyadarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan ini, menurut John Hick, bisa berfungsi sebagai jembatan psikologis untuk menyeberang dari sudut pandang lama ke sudut pandang yang baru (yaitu yang menerima adanya keselamatan di luar agama Kristen). Akan tetapi, tegas Hick, cepat atau lambat kita harus keluar dari jembatan itu dan melangkah lebih jauh lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umat manusia pada jaman dahulu menganut teori Ptolemeus yang mengatakan bahwa Bumi adalah pusat tata surya, sedangkan benda-benda langit lainnya bergerak mengelilinginya. Prinsip yang menyatakan bahwa tak ada keselamatan di luar Kristen, dalam analogi Hick, adalah prinsip teologi yang ptolemaik (theologically ptolemaic). Kristen dianggap sebagai pusat dari ‘alam semesta keyakinan’ (the universe of faiths). Semua agama selain Kristen berputar mengelilinginya dan dinilai berdasarkan jarak darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana teori Ptolemeus dapat dikembangkan tidak hanya dari sudut pandang penduduk Bumi, teologi ptolemaik juga dapat dikembangkan dari sudut pandang lainnya. Misalnya, orang Hindu akan berpendapat umat Kristen adalah umat Hindu yang implisit (implicit Hindus), demikian juga umat lainnya membuat klaim yang serupa terhadap agama-agama lainnya. Cara pandang ptolemaik bisa dipakai oleh semua orang, dan bermanfaat untuk ‘mempersiapkan’ akal kita untuk menerima revolusi Copernicus. Demikianlah menurut John Hick.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Copernicus adalah ilmuwan pertama yang menyatakan bahwa matahari, dan bukan Bumi, yang merupakan pusat dari tata surya. John Hick kemudian menggunakannya sebagai analogi untuk mengajukan teori bahwa seluruh alam semesta keyakinan bergerak mengitari Tuhan, dan bukan agama Kristen atau agama-agama lainnya. Dia adalah mataharinya, sumber asli dari cahaya dan kehidupan, yang semua agama bercermin pada-Nya dengan cara-cara mereka yang berbeda-beda (He is the sun, the originative source of light and life, whom all the religions reflect in their own different ways). Pada titik ini, Hick mengajak kita untuk beralih dari religion-centredness kepada God-centredness.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;John Hick berpendapat bahwa masing-masing agama adalah alat untuk menurunkan wahyu kepada berbagai aliran peradaban manusia. Penjelasan ini sejalan dengan yang ditemukan Hick dalam bahasan-bahasan sejarah agama-agama. Pada periode awal peradaban manusia, agama yang dianut adalah agama natural yang melakukan pemujaan terhadap roh, nenek moyang, dewa-dewa alam, dan kadang juga kepercayaan kebangsaan yang haus darah. Pada periode berikutnya muncullah agama-agama yang lebih maju di pusat-pusat peradaban manusia. Pada periode ini lahir agama Yahudi, Zoroaster, Konfusianisme, Budha dan sebagainya. Pada periode setelah itu barulah lahir agama Kristen dan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada periode kedua, sekitar dua ribu lima ratus tahun yang lalu, komunikasi antarbenua dan peradaban di Bumi berlangsung sangat lambat, sehingga manusia praktis hidup dalam kebudayaan-kebudayaan dunia yang berbeda. Maka yang terjadi adalah pewahyuan yang terpisah (separate revelations) kepada umat-umat yang berbeda dalam sejarah manusia. Maka Tuhan pun dikenali dengan cara yang berbeda-beda oleh masing-masing peradaban manusia, sedangkan tradisi-tradisi keagamaan dipengaruhi oleh sejarah, kebudayaan, bahasa, iklim dan keadaan-keadaan lainnya yang mempengaruhi hidup manusia. Dengan demikian, bentuk kultural dan filosofis dari masing-masing agama memiliki karakter yang berbeda-beda, namun Hick meyakinkan semua orang bahwa di segala tempat ada Dzat yang bekerja untuk terus berhubungan dengan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;John Hick menyadari bahwa pemahaman ini akan menimbulkan banyak pertanyaan di tengah-tengah umat Kristen. Bagaimana dengan klaim Yesus Kristus sebagai pihak kedua dari Trinitas Suci yang menjadi manusia, Logos abadi yang memiliki daging manusia? Hick mengatakan bahwa klaim ini pun sekarang sedang diguncang hebat, karena para ahli di Barat mulai mengkritisi Perjanjian Baru dan meragukan klaim bahwa kitab ini seratus persen benar. Bahkan para ahli tidak menemukan klaim dalam Bibel yang menyatakan bahwa Yesus Kristus adalah satu dengan Tuhan. Pada akhirnya, Hick mempertanyakan: apakah klaim ketuhanan yang menyangkut Yesus adalah sebuah pernyataan yang berdasarkan fakta, ataukah itu hanya ungkapan puitis, simbolik, bahkan mitologis? Hick memilih pendapat yang terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hick memperbandingkan Yesus – yang merupakan anak Tuhan yang memiliki ibu Sang Perawan Maria – dengan tokoh mitologi Hercules, yang ayahnya adalah dewa Zeus dan ibunya adalah seorang manusia. Bagaimanapun, teori semacam ini tak pernah didiskusikan serius untuk menggambarkan konsep ketuhanan Yesus. Dalam sejarah Kristen, setiap kali ada yang berusaha menjabarkan konsep ini dengan istilah-istilah yang literal dan faktual, hasilnya adalah vonis kekafiran (heresy). Sebab Gereja tidak mau menerima penafsiran yang menggambarkan Yesus sebagai bukan sepenuhnya manusia atau bukan sepenuhnya Tuhan. Sebaliknya, Gereja sendiri gagal menjabarkan konsep Trinitas dengan cara yang memuaskan akal manusia, karena Yesus adalah sepenuhnya Tuhan dan sepenuhnya manusia, bukan setengah-setengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, John Hick memandang konsep ketuhanan Yesus sebagai kisah yang murni puitis-mitologis. Yesus, menurutnya, adalah sarana manusia untuk melakukan kontak dengan Tuhan. Karena ia adalah sebenar-benarnya pelayan Tuhan, maka menjadi pengikutnya adalah sama dengan menjadi pengikut Tuhan yang sebenar-benarnya juga. Itulah sebabnya ia disebut sebagai anak Tuhan. Dengan cara ini, menurut Hick, kita bisa memuji keimanan Kristen tanpa harus mencela keimanan agama lain. Kita juga dapat mengatakan bahwa terdapat keselamatan di jalan Kristus tanpa harus mengatakan bahwa tidak ada keselamatan selain dari jalan Kristus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengamatan Hick yang murni historis mengantarkannya pada kesimpulan bahwa agama-agama dunia sebenarnya senantiasa mengalami perubahan, meskipun hampir selalu mengklaim dirinya tak memiliki kesalahan atau ajarannya abadi. Masing-masing agama mengalami masa-masa terjadinya perubahan yang sangat besar, ekspansi besar-besaran, skisma (perpecahan), reformasi dan pencerahan, dan juga periode yang relatif stabil. John Hick mengakui bahwa Islam adalah agama yang paling sedikit berubah dibanding agama-agama lainnya, sedangkan Hindu adalah agama yang paling siap untuk berubah dan menerima pengaruh dari luar. Pada prinsipnya, tegas Hick, tak ada batas dari perkembangan selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut ramalan Hick, pada periode-periode berikutnya akan terjadi interaksi antaragama yang cukup intens. Masa depan Kristen akan dibentuk salah satunya dengan pengaruh Hindu, Budha dan Islam, dan demikian juga sebaliknya. Hubungan antaragama bersifat mutual. Selain menerima pengaruh dari agama lain, juga ada pengaruh dari peradaban sekuler.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hick kemudian memformulasikan ramalannya tentang bentuk agama manusia di masa depan. Menurut Hick, religiusitas manusia adalah bawaan lahirnya (innate) dan agama akan lestari dalam suatu bentuk selama sifat asal manusia masih sama. Tapi seperti apa bentuk agama di masa depan itu? Di masa kini, persamaan diantara semua agama itu nampaknya lebih dipandang penting daripada perbedaan-perbedaannya. Berdasarkan trend tersebut, Hick berpendapat bahwa di masa depan manusia akan bersepakat dalam komitmen terhadap keimanan yang berlandaskan persaudaraan, sementara perbedaan-perbedaan diantara tradisi-tradisi agama menjadi kurang signifikan artinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;John Hick membayangkan agama-agama di dunia ini kelak akan seperti sekte-sekte Kristen yang saling bersahabat satu sama lainnya. Manusia bisa mengunjungi peribadatan umat lain tanpa rasa sungkan, bahkan bisa juga berbagi tempat ibadah, bekerja sama dalam segala hal, para pemuka agamanya terbiasa berdiskusi satu sama lainnya dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun, Hick melihat bahwa bersatunya agama-agama itu adalah suatu hal yang terlalu muluk. Hanya saja, ia berharap tradisi-tradisi keagamaan dapat memandang satu sama lainnya bukan sebagai rival. Menurut Hick, selama masih ada berbagai macam manusia, akan selalu ada berbagai macam cara peribadatan dan pendekatan teologi. Akan tetapi, sebagaimana yang telah ditegaskan sebelumnya, Tuhan yang disembah oleh umat Kristen adalah sama dengan Tuhan yang disembah oleh umat Islam, Yahudi, Budha, Hindu dan sebagainya. Hick mengakhiri uraiannya dengan kutipan dari kitab Bhagavad Gita, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris kurang lebih sebagai berikut: “Howsoever men may approach me, even so do I accept them; for, on all sides, whatever path they may choose is mine.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uraian Hick selanjutnya menunjukkan permasalahan lain yang juga khas Barat, yaitu seputar kemauan untuk memahami orang lain dan bersikap toleran. Menurut Hick, bangsa Barat baru ’membuka matanya’ terhadap peradaban lain pada tahun 1950-an, setelah umat Hindu, Islam dan Sikh melakukan imigrasi besar-besaran, terutama ke Inggris. Pada saat itu, bahkan peradaban Barat yang sudah melepaskan diri dari hegemoni Gereja pun dituntut untuk membuktikan sikap tolerannya. Akan tetapi, pada kenyataannya Barat pun masih berkutat pada pertanyaan-pertanyaan seperti perlunya menyediakan tempat-tempat beribadah untuk mereka, atau perlu-tidaknya memaksa mereka mengikuti pelajaran agama Kristen dan pertanyaan-pertanyaan semacamnya. Jelaslah bahwa sekularisme yang dibangun oleh peradaban Barat adalah semata-mata untuk melepaskan diri dari Gereja, dan ideologi ini tidak serta-merta ekivalen dengan toleransi. Umat Islam, di sisi lain, tidak berkutat dengan pertanyaan-pertanyaan demikian, karena pembahasan tentang toleransi terhadap umat beragama lainnya telah lama tuntas dijawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hick kemudian mengalihkan pandangannya pada agama-agama di luar Kristen. Sebagai seorang yang menyebut dirinya sebagai pluralis tulen, John Hick tidak sungkan untuk mempelajari agama-agama lain, bahkan menyelidik ke rumah-rumah ibadahnya. Hasil dari surveinya itu menyebutkan bahwa ada berbagai macam perbedaan dalam peribadatan masing-masing agama, namun secara prinsip, esensinya sama saja. Ironisnya, hal-hal yang disebutkan oleh John Hick justru tidak menyentuh esensi agama itu sendiri, misalnya masalah topi dan sepatu, berdiri dan duduk, menyanyi dan alat musik, dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika menyentuh pembahasan yang lebih pokok dan krusial, misalnya masalah sosok Tuhan, Hick mengambil langkah aman, semata-mata untuk menghindari permasalahan yang lebih pelik saja. Ia menolak keberadaan banyak Tuhan, tapi juga menolak untuk mengatakan bahwa hanya ada satu agama yang menyembah Tuhan, sedangkan yang lainnya tidak. Hick menolak anggapan ini karena dalam agama Kristen sendiri terdapat banyak ’imej Tuhan’, misalnya Tuhan yang Maha Tegas dengan Tuhan yang Maha Penyayang. Pada akhirnya Hick mengambil jalan kompromi dengan mengatakan bahwa masing-masing agama mengenal Tuhan berdasarkan imej-Nya yang bisa mereka lihat sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep Hick mengenai masing-masing agama yang melihat imej yang berbeda-beda dari Tuhan yang sama juga memiliki permasalahan lain yang tidak kalah peliknya. Konsep ini membuka pintu terhadap sinkretisme dan kelahiran agama baru, karena pandangan seperti ini justru tak ubahnya membolehkan semua orang untuk memilih imej Tuhan yang disembahnya sendiri-sendiri. Maka agama yang satu bisa dilengkapi dengan ajaran agama yang lain, agar imej Tuhan yang disembahnya semakin lengkap dan komprehensif. Itulah sebabnya kalangan pluralis banyak yang berpendapat bahwa jumlah agama itu bisa jadi sebanyak jumlah manusia itu sendiri, karena agama diletakkan sebagai urusan yang murni pribadi, dan tak seorang pun boleh menggugat pemahaman keagamaan orang lain. Dalam perspektif pluralisme, tak ada yang namanya aliran sesat; semuanya adalah agama yang sah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hick kemudian melangkah lebih jauh dengan menggunakan revolusi yang terjadi dalam dunia sains dan mencocokkannya dengan perubahan paradigma teologi. Hick hanya mengatakan bahwa revolusi ala Copernicus – ketika menolak teori yang menyebutkan bahwa Bumi adalah pusat tata surya dan mengalihkannya pada teorinya yang mengatakan bahwa matahari adalah pusat tata surya – perlu diadopsi dalam teologi. Dalam uraiannya, tidak dijelaskan poin-poin pertimbangan yang menyebabkan Hick menggunakan analogi seperti ini. Pada akhirnya, Hick memang bersikeras untuk mengusung God-centredness, yaitu sebuah konsep yang menyatakan bahwa setiap agama menyembah Tuhan yang sama. Analoginya, Tuhan adalah matahari, sedangkan agama-agama adalah planet-planet yang mengitarinya. Planet-planetnya memang berbeda, namun pusat perputarannya sama, yaitu matahari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;John Hick melanjutkan pembahasannya pada pembahasan sejarah agama-agama itu sendiri. Menurutnya, pada awalnya manusia menganut agama natural, kemudian setelah itu lahirlah agama-agama seperti Zoroaster, Yahudi, dan Konfusianisme, baru kemudian menyusul Kristen dan Islam. Hick berpendapat bahwa masing-masing agama berkembang setelah dipengaruhi oleh kultur masyarakat setempat masing-masing. Sayangnya, Hick tidak membahas agama natural yang awalnya dianut manusia. Dengan menilik teori Hick mengenai pengaruh kultural terhadap agama, maka seharusnya agama pertama – yaitu agama natural – itulah yang paling murni dari Tuhan. Namun Hick justru menyebut penyembahan terhadap roh nenek moyang sebagai agama natural juga, sedangkan sikap Hick terhadap penyembahan roh itu tidaklah dijelaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;John Hick menutup uraiannya dengan menjelaskan bahwa setiap agama di dunia ini pernah dan akan mengalami perubahan. Dengan terbukanya komunikasi antarbenua dan antaragama, maka masing-masing agama akan saling mempengaruhi, bahkan agama pun akan terpengaruh oleh ideologi-ideologi seperti sekularisme.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Read More&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599533476917537716-3054241811035605539?l=lopuhaa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lopuhaa.blogspot.com/feeds/3054241811035605539/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lopuhaa.blogspot.com/2010/03/teologi-pluralis-john-hick.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599533476917537716/posts/default/3054241811035605539'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599533476917537716/posts/default/3054241811035605539'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lopuhaa.blogspot.com/2010/03/teologi-pluralis-john-hick.html' title='Teologi Pluralis John Hick'/><author><name>Agus Lopuhaa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08707657824390767254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_Euu8TTQjEkw/SRqBK8H5dhI/AAAAAAAAAA4/wwqeGvzZoxw/S220/Love+Us.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599533476917537716.post-3627101554699979801</id><published>2010-03-02T10:01:00.000+09:00</published><updated>2010-03-02T10:01:41.020+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sosial'/><title type='text'>ETIKA GLOBAL</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;“Apa yang kamu tidak ingin orang lain melakukan kepadamu, jangan lakukan pada orang lain” (Golden Rule of Global Ethic)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Prolog: Dari Mana Memulainya&lt;br /&gt;Tanggal 28 Agustus sampai 5 September 1993, di kota Chicago dilaksanakan Parlemen Agama-agama Dunia (Parlement of the World’s Religions – PWR). Parlemen ini menghasilkan sebuah dokumen penting yang disebut MENUJU SEBUAH ETIK GLOBAL: SEBUAH DEKLARASI AWAL (Towards a Global Ethic: An Initial Declaration). Pertemuan ini adalah pertemuan antar – iman yang membicarakan krisis kemanusiaan yang telah berlangsung selama berabad, sehingga mampu memberikan suatu nuansa baru dalam usaha-usaha membangun dialog antar iman, apalagi pendekatan-pendekatan yang selama ini ditempuh mengalami kemacetan/gagal. Kegagalan pertama adalah kenyataan bahwa perjumpaan antar iman hanya berputar pada ranah dogmatis. Dialog terjebak dalam kemandulan untuk bersuara konkret pada kenyataan hidup. Jurang antara refleksi dogmatis dan praksis etis semakin melebar. Sedangkan yang dibutuhkan dalam sebuah etik global adalah dialog dalam tataran praksis, dialog dalam menghadapi persoalan etis bersama, sebagai sesama saudara penghuni bumi. Kegagalan kedua, perjumpaan antar iman hanya menjadi wacana/diskursus intelektual di kalangan tertentu dan dengan demikian tercabut dari kehidupan konkret umat beriman yang secara langsung bersentuhan dengan penganut agama lain. Kegagalan ketiga, perjumpaan antar iman semata-mata menjadi proyek resmi yang dilansir oleh pihak pemerintah, namun justru tidak didasarkan pada kesadaran yang menjadi keharusan iman itu sendiri. Dengan kata lain, dialog antar iman hanya semata-mata menjadi komoditas politik penguasa. Kegagalan keempat, agama-agama dalam perjalanannya menjadi agen (bahkan sumber) dari konflik sosial. &lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Etika Global: Tanggung Jawab Global&lt;br /&gt;Etika Global bermula dari asumsi bahwa sebagai manusia kita telah terllibat dalam masyarakat global, entah kita mengetahuinya atau tidak; entah kita menyukainya atau tidak. Dengan kata lain, etika global merupakan sebuah tanggapan etis terhadap konteks global yang baru. Tanggapan etis ini dianggap bermanfaat bagi keseluruhan, yaitu bagi manusia, alam dan keseluruhan yang ada di planet ini, yang merupakan titik berangkat yang normatif. Dengan memahami kenyataan global, kita dimungkinkan untuk menuju masa depan, menuju apa yang secara ideal dicita-citakan bersama. Sebab pada dasarnya, etika global mengacu pada sikap moral manusia yang paling mendasar. Ciri-ciri dari etika global adalah:&lt;br /&gt;1. Etika global masuk dalam level etis yang paling mendasar, nilai-nilai yang mengikat, serta sikap-sikap dasariah yang paling fundamental.&lt;br /&gt;2. Etika global menjadi sebuah konsensus bersama agama-agama, namun tidak terhisab dalam satu tradisi iman tertentu. Karena etika global bukan bertujuan menciptakan suatu agama tunggal (a unified religion), melainkan semua agama memberikan sumbangsihnya terhadap persoalan bersama.&lt;br /&gt;3. Etika global bersifat otokritik. Artinya, ia bukan hanya mengalamatkan pesannya kepada dunia, tetapi juga pada agama-agama itu sendiri. Hal ini penting karena agama pada dirinya bersifat paradoksal, satu sisi ia berpotensi mengupayakan kemanusiaan sejati, namun di sisi lain berpotensi pula melegitimasi segala bentuk ketidakadilan dan perendahan nilai kemanusiaan.&lt;br /&gt;4. Etika global terkait dan berpijak pada kenyataan dan isu kongkret.&lt;br /&gt;5. Etika global dapat dipahami secara umum. Itu berarti, etika global bukan menjadi suatu diskursus ilmiah pada kalangan tertentu. Semuanya harus dijelaskan dan dapat dipahami dalam setiap lapisan masyarakat.&lt;br /&gt;6. Etika global harus memiliki pendasaran religius. Artinya, semua agama-agama baik itu agama-agama besar maupun agama suku menjadi dasar untuk menopang etika global. Dengan kata lain, pada saat yang sama etika global dapat dipandang oleh setiap agama dari dalam masing-masing tradisi yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ciri-ciri di atas, maka etika global memiliki empat dimensi aktual yang menjadi realitas hidup global, yaitu:&lt;br /&gt;1. Dimensi Kosmis (Manusia dengan Alam)&lt;br /&gt;Isu ekologis ini menuntut suatu cara hidup global baru yang tidak hanya berfokus pada produktivitas, namun juga solidaritas dengan lingkungan hidup. Cara hidup tersebut harus berpusat pada sebuah komunitas seluruh ciptaan. Visi ekologis ini sekaligus menyiratkan kritik etis atas realitas ekologis yang sedang dialami secara global oleh bumi ini, seperti pengrusakan alam, global warming/climate change, kelaparan, punahnya spesies tertentu, peperangan dsb.&lt;br /&gt;2. Dimensi Antropologis (Laki-laki dan Perempuan)&lt;br /&gt;Isu gender menjadi perhatian serius dalam mewujudkan etika global. Dunia pada masa kini dipandang masih diwarnai sistem hubungan yang terlalu patriarkis; laki-laki pada kodratnya dianggap memang lebih unggul ketimbang perempuan. Sistem patriarkis ini lebih jauh dilihat sebagai sumber dari banyak realitas hidup yang amat tidak manusiawi: eksploitasi laki-laki atas perempuan, pelecehan seksual anak-anak, serta pelacuran. Tanggung jawab global seharusnya membawa serta cara hidup baru yang lebih mengusahakan kesetaraan dan kesederajatan. Dengan kata lain, ada komitmen kuat pada sebuah budaya yang setara hak dan kerja sama antara laki-laki dan perempuan.&lt;br /&gt;3. Dimensi Sosio-Politis (Kaya dan Miskin)&lt;br /&gt;Kemiskinan yang terjadi di seluruh dunia, penyebab utamanya bukan hanya pada individu-individu. Institusi-institusi dan struktur-struktur yang tidak adil juga menjadi penyebab atas tragedi kemiskinan. Kesenjangan yang terjadi antara penguasa dan rakyat semakin meluas mengakibatkan akses ekonomi semakin lemah. Atas nama investasi, maka kaum borjuis menguasai perekonomian yang tak terkendali tanpa memberikan penguatan pada ekonomi lokal yang dikelola secara langsung oleh rakyat. Jika penguasa dengan “mesin politik” yang haus kekuasaan tetap berlangsung, maka penguasa tidak lagi pro rakyat. Akibatnya, penindasan dan eksploitasi atas nilai-nilai kemanusiaan tetap berlangsung. Kesejahteraan hanya menjadi pemanis bibir pada saat berkampanye untuk mencari kekuasaan. Politik seharusnya menjadi alat untuk mengabdi pada kemanusiaan; mengupayakan perjuangan melawan kemiskinan dan ketidakadilan global.&lt;br /&gt;4. Dimensi Religius (Manusia dan Tuhan)&lt;br /&gt;Hubungan yang terbangun ini ada dalam lembaga-lembaga agama. Oleh karenanya, tidak ada alasan dari semua agama untuk menjadi alat pemicu konflik atas dasar dogma yang berbeda. Semua agama memiliki jalan tersendiri, namun menuju kepada satu tujuan yakni Tuhan. Dengan demikian, maka toleransi harus menjadi dasar hidup bersama penganut agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip dari etika global yakni setiap manusia harus diperlakukan manusiawi. Berdasarkan prinsip ini dan golden rule di atas maka harus ada komitmen pada sebuah budaya tanpa kekerasan dan penghargaan pada kehidupan; komitmen pada sebuah budaya solidaritas dan sebuah tata ekonomi yang adil; komitmen pada sebuah budaya toleransi dan sebuah kehidupan dalam kebenaran; dan komitmen pada sebuah budaya hak-hak yang setara dan kerja sama antara laki-laki dan perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Epilog: Nilai Moral Global&lt;br /&gt;Tidak ada peluang kehidupan bagi manusia tanpa perdamaian global. Tidak ada perdamaian global tanpa keadilan global. Tidak ada keadilan global tanpa rasa saling percaya dan kemanusiaan. Tidak ada kemanusiaan otentik tanpa sebuah kehidupan bersama dalam kerja sama. []&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;Diambil dari berbagai sumber&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Read More&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599533476917537716-3627101554699979801?l=lopuhaa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lopuhaa.blogspot.com/feeds/3627101554699979801/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lopuhaa.blogspot.com/2010/03/etika-global.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599533476917537716/posts/default/3627101554699979801'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599533476917537716/posts/default/3627101554699979801'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lopuhaa.blogspot.com/2010/03/etika-global.html' title='ETIKA GLOBAL'/><author><name>Agus Lopuhaa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08707657824390767254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_Euu8TTQjEkw/SRqBK8H5dhI/AAAAAAAAAA4/wwqeGvzZoxw/S220/Love+Us.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599533476917537716.post-6432170976192174051</id><published>2010-02-17T14:20:00.003+09:00</published><updated>2010-02-17T14:30:30.147+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>Minggu Pra Paskah</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selama ini ada kekeliruan sehubungan dengan masa Pra Paskah. Kita merayakannya selama tujuh hari Minggu, padahal gereja-gereja di seluruh muka bumi merayakan masa Pra Paskah selama enam minggu, atau tepatnya empatpuluh hari. Mengapa bisa demikian?&lt;br /&gt;Paskah Kristiani berasal dari dari Paskah Yahudi. Di jaman Perjanjian Lama, Paskah merupakan peringatan berhasil keluarnya Israel dari Mesir setelah mereka mengorbankan seekor anak domba dan darahnya diusap di pintu rumah masing-masing. Dalam tradisi Israel, Masa Paskah didahului oleh 40 hari masa persiapan yang dimulai dengan Hari Penebusan (&lt;i&gt;Yom Kippur&lt;/i&gt;). Empatpuluh hari ini melambangkan 40 tahun perjalanan Israel di padang gurun. Perayaan Paskah Kristiani mengikuti pola Paskah Yahudi, sebab kita pun mengenal Anak domba Paskah yang dikorbankan, yakni dalam diri Yesus Kristus sebagai Anak Domba Allah. Itu sebabnya masa Pra Paskah lamanya juga 40 hari. Bagi kita, makna 40 hari ini dihubungkan dengan masa persiapan Yesus menjelang pelayananNya, dengan berpuasa 40 hari lamanya di padang gurun.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Perlu diingat bahwa perhitungan 40 hari ini tidak termasuk hari Minggu, sebab umat Tuhan tidak pernah berpuasa pada hari Minggu. Tiap hari Minggu adalah peringatan hari kebangkitan Tuhan. Dengan demikian, masa Pra Paskah jumlahnya adalah 6 minggu (6 x 6 = 36 hari) ditambah empat hari. Itu sebabnya hari pertama masa Pra Paskah jatuh pada hari Rabu. Inilah yang diperingati sebagai Rabu Abu (&lt;i&gt;Ash Wednesday&lt;/i&gt;).&lt;br /&gt;Mengapa selama kebanyakan gereja (khususnya gereja protestan) merayakan 7 minggu Pra Paskah? Ada dua kemungkinan: (a). Karena gereja kita tidak pernah merayakan Rabu Abu, sehingga perayaan hari pertama ini digeser ke hari Minggu sebelumnya lalu dianggap sebagai minggu “Pra Paskah Pertama.”&amp;nbsp; Tentu saja, jumlah minggu Pra Paskah menjadi tujuh. (b) Dalam sejarah gereja, pernah muncul tradisi dimana seminggu sebelum memasuki masa Pra Paskah, diadakan “Persiapan Pra Paskah.” Kebiasaan ini sudah lama dihilangkan, karena masa Pra Paskah sendiri sebenarnya adalah masa persiapan. Aneh jika kita harus mempersiapkan diri untuk masa persiapan.&lt;br /&gt;Apapun penyebabnya, gereja telah memiliki kebiasaan menghayati masa Pra Paskah yang tidak tepat. Ini bukan soal pilihan atau selera, namun soal perlunya meluruskan kembali tradisi yang tidak memiliki dasar teologis/liturgis.  &lt;br /&gt;Kadang orang berkata, masa Pra Paskah itu sama dengan Minggu-minggu Sengsara. Padahal tidak. Minggu Sengsara itu jatuh pada hari minggu terakhir sebelum Hari Paskah. Sedangkan minggu-minggu sebelumnya disebut sebagai Minggu Pra Paskah. Mengapa? Karena kita baru memperingati kesengsaraan Kristus seminggu sebelum Ia disalib, tepatnya mulai saat Ia memasuki Yerusalem dan disambut dengan lambaian daun Palma. Itu sebabnya hari Minggu sebelum Paskah itu disebut juga dengan Minggu Palma, karena kita akan memperingati masuknya Yesus ke Yerusalem sekaligus juga awal penderitaanNya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Read More&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599533476917537716-6432170976192174051?l=lopuhaa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lopuhaa.blogspot.com/feeds/6432170976192174051/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lopuhaa.blogspot.com/2010/02/minggu-pra-paskah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599533476917537716/posts/default/6432170976192174051'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599533476917537716/posts/default/6432170976192174051'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lopuhaa.blogspot.com/2010/02/minggu-pra-paskah.html' title='Minggu Pra Paskah'/><author><name>Agus Lopuhaa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08707657824390767254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_Euu8TTQjEkw/SRqBK8H5dhI/AAAAAAAAAA4/wwqeGvzZoxw/S220/Love+Us.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599533476917537716.post-2977050875619222341</id><published>2010-01-27T02:32:00.000+09:00</published><updated>2010-01-27T02:32:49.599+09:00</updated><title type='text'>ETIKA</title><content type='html'>&lt;meta content="text/html; charset=utf-8" http-equiv="Content-Type"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Word.Document" name="ProgId"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Generator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Originator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;link href="file:///C:%5CUsers%5CDEAQUE%7E1%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CUsers%5CDEAQUE%7E1%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx" rel="themeData"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CUsers%5CDEAQUE%7E1%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping"&gt;&lt;/link&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:TrackMoves/&gt;   &lt;w:TrackFormatting/&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:DoNotPromoteQF/&gt;   &lt;w:LidThemeOther&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:LidThemeAsian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:LidThemeComplexScript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;    &lt;w:SplitPgBreakAndParaMark/&gt;    &lt;w:DontVertAlignCellWithSp/&gt;    &lt;w:DontBreakConstrainedForcedTables/&gt;    &lt;w:DontVertAlignInTxbx/&gt;    &lt;w:Word11KerningPairs/&gt;    &lt;w:CachedColBalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathPr&gt;    &lt;m:mathFont m:val="Cambria Math"/&gt;    &lt;m:brkBin m:val="before"/&gt;    &lt;m:brkBinSub m:val="--&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"  DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"  LatentStyleCount="267"&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading"/&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt;&lt;!-- /* Font Definitions */ @font-face	{font-family:"Cambria Math";	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;	mso-font-charset:0;	mso-generic-font-family:roman;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 415 0;}@font-face	{font-family:Calibri;	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4;	mso-font-charset:0;	mso-generic-font-family:swiss;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:-520092929 1073786111 9 0 415 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal	{mso-style-unhide:no;	mso-style-qformat:yes;	mso-style-parent:"";	margin-top:0in;	margin-right:0in;	margin-bottom:10.0pt;	margin-left:0in;	line-height:115%;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:11.0pt;	mso-bidi-font-size:10.0pt;	font-family:"Calibri","sans-serif";	mso-fareast-font-family:Calibri;	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";}p.MsoListParagraph, li.MsoListParagraph, div.MsoListParagraph	{mso-style-unhide:no;	mso-style-qformat:yes;	margin-top:0in;	margin-right:0in;	margin-bottom:10.0pt;	margin-left:.5in;	line-height:115%;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:11.0pt;	mso-bidi-font-size:10.0pt;	font-family:"Calibri","sans-serif";	mso-fareast-font-family:Calibri;	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";}.MsoChpDefault	{mso-style-type:export-only;	mso-default-props:yes;	mso-ascii-font-family:Calibri;	mso-ascii-theme-font:minor-latin;	mso-fareast-font-family:Calibri;	mso-fareast-theme-font:minor-latin;	mso-hansi-font-family:Calibri;	mso-hansi-theme-font:minor-latin;	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}.MsoPapDefault	{mso-style-type:export-only;	margin-bottom:10.0pt;	line-height:115%;}@page Section1	{size:8.5in 11.0in;	margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in;	mso-header-margin:.5in;	mso-footer-margin:.5in;	mso-paper-source:0;}div.Section1	{page:Section1;} /* List Definitions */ @list l0	{mso-list-id:2;	mso-list-template-ids:2;}@list l0:level1	{mso-level-tab-stop:none;	mso-level-number-position:left;	text-indent:-.25in;}@list l0:level2	{mso-level-number-format:alpha-lower;	mso-level-tab-stop:none;	mso-level-number-position:left;	text-indent:-.25in;}@list l0:level3	{mso-level-number-format:roman-lower;	mso-level-tab-stop:none;	mso-level-number-position:right;	text-indent:-9.0pt;}@list l0:level4	{mso-level-tab-stop:none;	mso-level-number-position:left;	text-indent:-.25in;}@list l0:level5	{mso-level-number-format:alpha-lower;	mso-level-tab-stop:none;	mso-level-number-position:left;	text-indent:-.25in;}@list l0:level6	{mso-level-number-format:roman-lower;	mso-level-tab-stop:none;	mso-level-number-position:right;	text-indent:-9.0pt;}@list l0:level7	{mso-level-tab-stop:none;	mso-level-number-position:left;	text-indent:-.25in;}@list l0:level8	{mso-level-number-format:alpha-lower;	mso-level-tab-stop:none;	mso-level-number-position:left;	text-indent:-.25in;}@list l0:level9	{mso-level-number-format:roman-lower;	mso-level-tab-stop:none;	mso-level-number-position:right;	text-indent:-9.0pt;}ol	{margin-bottom:0in;}ul	{margin-bottom:0in;}--&gt;&lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt; /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable	{mso-style-name:"Table Normal";	mso-tstyle-rowband-size:0;	mso-tstyle-colband-size:0;	mso-style-noshow:yes;	mso-style-priority:99;	mso-style-qformat:yes;	mso-style-parent:"";	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;	mso-para-margin-top:0in;	mso-para-margin-right:0in;	mso-para-margin-bottom:10.0pt;	mso-para-margin-left:0in;	line-height:115%;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:11.0pt;	font-family:"Calibri","sans-serif";	mso-ascii-font-family:Calibri;	mso-ascii-theme-font:minor-latin;	mso-hansi-font-family:Calibri;	mso-hansi-theme-font:minor-latin;	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt;1.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Pra Paham&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Dalam bahasa kita, istilah etika dipakai dalam berbagai-bagai hubungan. Misalnya digunakan untuk menjelaskan apakah kelakuan atau tindakan seseorang baik atau buruk. Atau untuk mengetahui norma-norma apakah yang digunakan oleh seseorang untuk tindakan atau perbuatannya. Atau untuk mengatakan apakah keputusan seseorang benar atau tidak benar, dan sebagainya. Dalam percakapan kita sehari-hari fakta-fakta, kejadian-kejadian, kebiasaan-kebiasaan, keputusan-keputusan dan lain-lain bukan saja dibicarakan, tetapi juga dinilai secara etis. Istilah etika berasal dari bahasa Yunani, εθοσ (&lt;i&gt;ethos&lt;/i&gt;).&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Kata ini memiliki pengertian sebagai tempat tinggal, baik dari manusia maupun binatang. Dengan kata lain, etos selalu mempunyai sangkut paut dengan tempat, di mana kita tinggal dan di mana kita berada. Selain itu, etos memiliki pengertian sebagai kebiasaan; juga berarti adat istiadat dalam arti adat atau kebiasaan dari suatu bangsa atau golongan. Etos juga bisa berarti sifat, karakter atau cara berpikir, cara mengungkapkan diri dan cara bertindak (menurut suatu norma tertentu/kecenderungan pada kesusilaan). Sedangkan etika sendiri adalah ilmu mengenai norma-norma yang mengatur tingkah laku manusia. Secara khusus, etika Kristen memiliki pengertian sebagai ilmu yang meneliti, menilai dan mengatur tabiat dan tingkah laku manusia dengan memakai norma kehendak atau perintah Allah sebagaimana dinyatakan di dalam Yesus Kristus yang mengacu pada Firman Allah dalam Alkitab. Dalam etika, kita mengenal juga etika individual dan etika sosial. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Etika individual membicarakan tentang kehidupan pribadi dan relasi-relasi pribadi yang diadakan antara manusia dengan manusia. Sedangkan etika social membahas hubungan-hubungan social, di mana manusia-manusia&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;sebagai anggota-anggota dari suatu kelompok dalam masyarakat saling mempunyai sangkut paut. Anggota-anggotanya adalah subjek-subjek dari suatu kelompok yang besar. Keputusan pribadi mereka memang dihargai, tetapi keputusan mereka itu terdapat dalam keputusan bersama dari seluruh kelompok. Sifat khas dari etika social adalah, bahwa yang merupakan subjek dari pertimbangan-pertimbangan dan keputusan etis ialah suatu kelompok manusia. Hubungan dengan anggota-anggota lain ditentukan secara structural dan dapat disebut suatu “hubungan kuasa” atau suatu sistim social. Keputusan-keputusan yang diambil oleh banyak orang secara bersama-sama dan menjadi tanggung jawab bersama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Di samping istilah etika, kita mengenal juga istilah moral. Kata moral berasal dari bahasa latin &lt;i&gt;mos &lt;/i&gt;(jamak: &lt;i&gt;mores&lt;/i&gt;) yang berarti kesusilaan atau kebiasaan baik yang berlaku pada suatu kelompok tertentu. Istilah ini lebih banyak digunakan oleh gereja Katolik Roma.&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt;2.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Kompleksitas Masalah Moral Dalam Era Global&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Perkembangan dunia yang begitu cepat seiring dengan perkembangan tekonologi dan informasi, telah menjadikan dunia bagai sebuah perkampungan kecil,&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;yang seakan-akan tidak ada sekat yang membatasi manusia yang satu dengan manusia yang lain atau kelompok satu dengan kelompok lain. Perkembangan ini turut pula membentuk pola pikir manusia yang berpengaruh pada kualitas moral. Begitu banyaknya masalah-masalah moral yang dijumpai dalam masyarakat menyebabkan semakin hilangnya nilai-nilai etika dan moral. Di sisi lain, manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan akan senantiasa mengalami perkembangan dan perubahan baik secara kualitatif maupun kuantitatif di sepanjang hidupnya. Tiap zaman selalu memiliki perkembangannya, demikian juga dengan era global dan teknologi informasi di abad ke-21 ini, suatu abad dengan perkembangan pesat di pelbagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Perkembangan ini telah membawa perubahan-perubahan social yang begitu dahsyat. Dapat dikatakat bahwa apa yang dihadapi oleh manusia saat ini disebut sebagai era informasi. Perkembangan ini tentu membawa kegoncangan social, kultur, psikologis-spiritual yang ditimbulkannya. Akibatnya masyarakat dunia mengalami &lt;i&gt;future shock&lt;/i&gt; (kejutan masa depan). Di satu sisi ada harapan bahwa martabat manusia semakin dihargai, namun di sisi lain terjadi keprihatinan akibat pelecehan terhadap martabat kemanusiaan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Namun menilai manusia, tidak terlepas dari perkembangan moral manusia tersebut. Lawrence Kohlberg (1927 – 1988), seorang profesor psikologi dari Universitas Harvard Amerika Serikat, membagi jenjang perkembangan moral sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;meta content="text/html; charset=utf-8" http-equiv="Content-Type"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Word.Document" name="ProgId"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Generator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Originator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;link href="file:///C:%5CUsers%5CDEAQUE%7E1%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CUsers%5CDEAQUE%7E1%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx" rel="themeData"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CUsers%5CDEAQUE%7E1%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping"&gt;&lt;/link&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:TrackMoves/&gt;   &lt;w:TrackFormatting/&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:DoNotPromoteQF/&gt;   &lt;w:LidThemeOther&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:LidThemeAsian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:LidThemeComplexScript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;    &lt;w:SplitPgBreakAndParaMark/&gt;    &lt;w:DontVertAlignCellWithSp/&gt;    &lt;w:DontBreakConstrainedForcedTables/&gt;    &lt;w:DontVertAlignInTxbx/&gt;    &lt;w:Word11KerningPairs/&gt;    &lt;w:CachedColBalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathPr&gt;    &lt;m:mathFont m:val="Cambria Math"/&gt;    &lt;m:brkBin m:val="before"/&gt;    &lt;m:brkBinSub m:val="--&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"  DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"  LatentStyleCount="267"&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading"/&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt;&lt;!-- /* Font Definitions */ @font-face	{font-family:"Cambria Math";	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;	mso-font-charset:0;	mso-generic-font-family:roman;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 415 0;}@font-face	{font-family:Calibri;	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4;	mso-font-charset:0;	mso-generic-font-family:swiss;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:-520092929 1073786111 9 0 415 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal	{mso-style-unhide:no;	mso-style-qformat:yes;	mso-style-parent:"";	margin-top:0in;	margin-right:0in;	margin-bottom:10.0pt;	margin-left:0in;	line-height:115%;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:11.0pt;	mso-bidi-font-size:10.0pt;	font-family:"Calibri","sans-serif";	mso-fareast-font-family:Calibri;	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";}p.MsoListParagraph, li.MsoListParagraph, div.MsoListParagraph	{mso-style-unhide:no;	mso-style-qformat:yes;	margin-top:0in;	margin-right:0in;	margin-bottom:10.0pt;	margin-left:.5in;	line-height:115%;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:11.0pt;	mso-bidi-font-size:10.0pt;	font-family:"Calibri","sans-serif";	mso-fareast-font-family:Calibri;	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";}.MsoChpDefault	{mso-style-type:export-only;	mso-default-props:yes;	mso-ascii-font-family:Calibri;	mso-ascii-theme-font:minor-latin;	mso-fareast-font-family:Calibri;	mso-fareast-theme-font:minor-latin;	mso-hansi-font-family:Calibri;	mso-hansi-theme-font:minor-latin;	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}.MsoPapDefault	{mso-style-type:export-only;	margin-bottom:10.0pt;	line-height:115%;}@page Section1	{size:8.5in 11.0in;	margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in;	mso-header-margin:.5in;	mso-footer-margin:.5in;	mso-paper-source:0;}div.Section1	{page:Section1;}--&gt;&lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt; /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable	{mso-style-name:"Table Normal";	mso-tstyle-rowband-size:0;	mso-tstyle-colband-size:0;	mso-style-noshow:yes;	mso-style-priority:99;	mso-style-qformat:yes;	mso-style-parent:"";	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;	mso-para-margin-top:0in;	mso-para-margin-right:0in;	mso-para-margin-bottom:10.0pt;	mso-para-margin-left:0in;	line-height:115%;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:11.0pt;	font-family:"Calibri","sans-serif";	mso-ascii-font-family:Calibri;	mso-ascii-theme-font:minor-latin;	mso-hansi-font-family:Calibri;	mso-hansi-theme-font:minor-latin;	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;table border="1" cellpadding="0" cellspacing="0" class="MsoNormalTable" style="border-collapse: collapse; border: medium none; margin-left: 0.25in;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid black; padding: 0in 5.4pt; width: 178.8pt;" width="238"&gt;   &lt;div align="center" class="MsoListParagraph" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;TINGKAT PERTUMBUHAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-color: black black black -moz-use-text-color; border-style: solid solid solid none; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 141.75pt;" width="189"&gt;   &lt;div align="center" class="MsoListParagraph" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;TAHAP PERTUMBUHAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-color: black black black -moz-use-text-color; border-style: solid solid solid none; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 106.3pt;" width="142"&gt;   &lt;div align="center" class="MsoListParagraph" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;PERASAAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;   &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color black black; border-style: none solid solid; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0in 5.4pt; width: 178.8pt;" valign="top" width="238"&gt;   &lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;TINGKAT PRAMORAL&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;0 – 6 tahun&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color black black -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 141.75pt;" valign="top" width="189"&gt;   &lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;TAHAP 0&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Perbedaan antara baik dan buruk belum didasarkan atas kewibawaan   atau norma-norma&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color black black -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 106.3pt;" valign="top" width="142"&gt;   &lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;   &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color black black; border-style: none solid solid; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0in 5.4pt; width: 178.8pt;" valign="top" width="238"&gt;   &lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;TINGKAT PRA KONVENSIONAL&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Perhatian khusus untuk akibat perbuatan; hukuman, ganjaran;   motif-motif lahiriah dan partikular&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color black black -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 141.75pt;" valign="top" width="189"&gt;   &lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;TAHAP 1&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Anak berpegang pada kepatuhan dan hukuman. Takut untuk kekuasaan   dan berusaha menghindarkan hukuman&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;TAHAP 2&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Anak mendasarkan diri atas egoisme naif yang kadang-kadang   ditandai relasi timbal balik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color black black -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 106.3pt;" valign="top" width="142"&gt;   &lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Takut untuk akibat-akibat negatif dari perbuatan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;   &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color black black; border-style: none solid solid; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0in 5.4pt; width: 178.8pt;" valign="top" width="238"&gt;   &lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;TINGKAT KONVENSIONAL&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Perhatian juga untuk maksud perbuatan; memenuhi harapan,   mempertahankan ketertiban&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color black black -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 141.75pt;" valign="top" width="189"&gt;   &lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;TAHAP 3&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Orang berpegang pada keinginan dan persetujuan dari orang lain&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;TAHAP 4&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Orang berpegang pada ketertiban moral dengan aturannya sendiri&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color black black -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 106.3pt;" valign="top" width="142"&gt;   &lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Rasa bersalah terhadap orang lain bila tidak mengikuti   tuntutan-tuntutan lahiriah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;   &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color black black; border-style: none solid solid; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0in 5.4pt; width: 178.8pt;" valign="top" width="238"&gt;   &lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;TINGKAT PASCA KONVENSIONAL atau TINGKAT BERPRINSIP&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Hidup moral adalah tanggung jawab pribadi atas dasar   prinsip-prinsip batin; maksud dan akibat-akibat tidak diabaikan – motif-motif   batin dan universal&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color black black -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 141.75pt;" valign="top" width="189"&gt;   &lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;TAHAP 5&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Orang berpegang pada persetujuan demokratis, kontrak sosial,   konsensus bebas&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;TAHAP 6&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Orang berpegang pada hati nurani pribadi, yang ditandai oleh   keniscayaan dan universalitas&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color black black -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 106.3pt;" valign="top" width="142"&gt;   &lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Penyesalan atau penghukuman diri karena tidak mengikuti   pengertian moralnya sendiri&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Read More&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599533476917537716-2977050875619222341?l=lopuhaa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lopuhaa.blogspot.com/feeds/2977050875619222341/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lopuhaa.blogspot.com/2010/01/etika.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599533476917537716/posts/default/2977050875619222341'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599533476917537716/posts/default/2977050875619222341'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lopuhaa.blogspot.com/2010/01/etika.html' title='ETIKA'/><author><name>Agus Lopuhaa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08707657824390767254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_Euu8TTQjEkw/SRqBK8H5dhI/AAAAAAAAAA4/wwqeGvzZoxw/S220/Love+Us.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599533476917537716.post-3923458067806259288</id><published>2009-11-28T22:16:00.007+09:00</published><updated>2010-01-15T10:17:18.622+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>ADVENT: Minggu Penantian</title><content type='html'>&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_Euu8TTQjEkw/SxEklTXwKLI/AAAAAAAAADg/hJVBAZ91IJM/s1600/lilin.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5409144850722334898" src="http://1.bp.blogspot.com/_Euu8TTQjEkw/SxEklTXwKLI/AAAAAAAAADg/hJVBAZ91IJM/s400/lilin.jpg" style="cursor: pointer; float: left; height: 123px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 123px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Masa Liturgi Adven menandai masa persiapan rohani umat beriman sebelum Natal. Adven dimulai pada hari Minggu terdekat sebelum Pesta St. Andreas Rasul (30 November). Masa Adven berlangsung selama empat hari Minggu dan empat minggu persiapan, meskipun minggu terakhir Adven pada umumnya terpotong dengan tibanya Hari Natal.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Masa Adven mengalami perkembangan dalam kehidupan rohani Gereja. Sejarah asal-mula Adven sulit ditentukan dengan tepat. Dalam bentuk awalnya, yang bermula dari Perancis, Masa Adven merupakan masa persiapan menyambut Hari Raya Epifani, hari di mana para calon dibaptis menjadi warga Gereja; jadi persiapan Adven amat mirip dengan Prapaskah dengan penekanan pada doa dan puasa yang berlangsung selama tiga minggu dan kemudian diperpanjang menjadi 40 hari. Pada tahun 380, Konsili lokal Saragossa, Spanyol menetapkan tiga minggu masa puasa sebelum Epifani. Diilhami oleh peraturan Prapaskah, Konsili lokal Macon, Perancis, pada tahun 581 menetapkan bahwa mulai tanggal 11 November (pesta St. Martinus dari Tours) hingga Hari Natal, umat beriman berpuasa pada hari Senin, Rabu dan Jumat. Lama-kelamaan, praktek serupa menyebar ke Inggris. Di Roma, masa persiapan Adven belum ada hingga abad keenam, dan dipandang sebagai masa persiapan menyambut Natal dengan ikatan pantang puasa yang lebih ringan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Gereja secara bertahap mulai lebih membakukan perayaan Adven. Buku Doa Misa Gelasian, yang menurut tradisi diterbitkan oleh Paus St. Gelasius I (wafat thn 496), adalah yang pertama menerapkan Liturgi Adven selama lima Hari Minggu. Di kemudian hari, Paus St. Gregorius I (wafat thn 604) memperkaya liturgi ini dengan menyusun doa-doa, antifon, bacaan-bacaan dan tanggapan. Sekitar abad kesembilan, Gereja menetapkan Minggu Adven Pertama sebagai awal tahun penanggalan Gereja. Dan akhirnya, Paus St. Gregorius VII (wafat thn 1095) mengurangi jumlah hari Minggu dalam Masa Adven menjadi empat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Meskipun sejarah Adven agak “kurang jelas”, makna Masa Adven tetap terfokus pada kedatangan Kristus (Adven berasal dari bahasa Latin “adventus”, artinya “datang”). Katekismus Gereja Katolik menekankan makna ganda “kedatangan” ini: “Dalam perayaan liturgi Adven, Gereja menghidupkan lagi penantian akan Mesias; dengan demikian umat beriman mengambil bagian dalam persiapan yang lama menjelang kedatangan pertama Penebus dan membaharui di dalamnya kerinduan akan kedatangan-Nya yang kedua” (no. 524).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Oleh sebab itu, di satu pihak, umat beriman merefleksikan kembali dan didorong untuk merayakan kedatangan Kristus yang pertama ke dalam dunia ini. Kita merenungkan kembali misteri inkarnasi yang agung ketika Kristus merendahkan diri, mengambil rupa manusia, dan masuk dalam dimensi ruang dan waktu guna membebaskan kita dari dosa. Di lain pihak, kita ingat dalam Syahadat bahwa Kristus akan datang kembali untuk mengadili orang yang hidup dan mati dan kita harus siap untuk bertemu dengannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Suatu cara yang baik dan saleh untuk membantu kita dalam masa persiapan Adven adalah dengan memasang Lingkaran Adven. Lingkaran Adven merupakan suatu lingkaran, tanpa awal dan akhir: jadi kita diajak untuk merenungkan bagaimana kehidupan kita, di sini dan sekarang ini, ikut ambil bagian dalam rencana keselamatan Allah yang kekal dan bagaimana kita berharap dapat dapat ikut ambil bagian dalam kehidupan kekal di kerajaan surga. Lingkaran Adven terbuat dari tumbuh-tumbuhan segar, sebab Kristus datang guna memberi kita hidup baru melalui sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya. Tiga batang lilin berwarna ungu melambangkan tobat, persiapan dan kurban; sebatang lilin berwarna merah muda melambangkan hal yang sama, tetapi dengan menekankan Minggu Adven Ketiga, Minggu Gaudate, saat kita bersukacita karena persiapan kita sekarang sudah mendekati akhir. Terang itu sendiri melambangkan Kristus, yang datang ke dalam dunia untuk menghalau kuasa gelap kejahatan dan menunjukkan kepada kita jalan kebenaran. Gerak maju penyalaan lilin setiap hari menunjukkan semakin bertambahnya kesiapan kita untuk berjumpa dengan Kristus. Setiap keluarga sebaiknya memasang satu Lingkaran Adven, menyalakannya saat santap malam bersama dan memanjatkan doa-doa khusus. Kebiasaan ini akan membantu setiap keluarga untuk memfokuskan diri pada makna Natal yang sebenarnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small; font-style: italic;"&gt;Sumber: Catatan Gereja Katolik Tentang Minggu Advent&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Read More&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599533476917537716-3923458067806259288?l=lopuhaa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lopuhaa.blogspot.com/feeds/3923458067806259288/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lopuhaa.blogspot.com/2009/11/advent-minggu-penantian.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599533476917537716/posts/default/3923458067806259288'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599533476917537716/posts/default/3923458067806259288'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lopuhaa.blogspot.com/2009/11/advent-minggu-penantian.html' title='ADVENT: Minggu Penantian'/><author><name>Agus Lopuhaa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08707657824390767254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_Euu8TTQjEkw/SRqBK8H5dhI/AAAAAAAAAA4/wwqeGvzZoxw/S220/Love+Us.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Euu8TTQjEkw/SxEklTXwKLI/AAAAAAAAADg/hJVBAZ91IJM/s72-c/lilin.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599533476917537716.post-4538592076389097661</id><published>2009-11-27T03:36:00.002+09:00</published><updated>2010-02-16T18:53:38.007+09:00</updated><title type='text'>MANUSIA</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Harus diakui bahwa pertanyaan tentang hakiat manusia telah menjadi bahas studi dari berbagai disiplin ilmu mulai dari filsaat, sosiologi, psikologi, anthropologi, biologi bahkan teologi. Namun hasil studi dan percakapan tentang hakikat manusia masih saja menyisahkan misteri. Artinya, selalu ada sisi-sisi dari kehidupan manusia yang tak seluruhnya dapat dijemput tuntas oleh disiplin ilmu yang manapun juga.&lt;br /&gt;Cerita dalam kitab Kejadian tentang penciptaan memberikan kepada manusia tempat mulia dalam alam semesta. Penciptaan manusia tidak hanya merupakan penutup dari segenap karya Allah, tetapi dalam penciptaan manusia itu sendiri terkandung penggenapan dan makna dari seluruh pekerjaan Allah pada kelima hari lainnya. Manusia diperintahkan memenuhi bumi dan menaklukkannya, dan bahkan berkuasa atas semua makhluk. Kesaksian yang sama tentang kekuasaan manusia dan tentang tempatnya yang sentral di alam ciptaan ini.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dalam seluruh Alkitab ditekankan bahwa mannusia adalah bagian dari alam ini. Manusia ialah debu dan diciptakan dari debu tanah; secara biologis dan badani ia mempunyai banyak kesamaan dengan binatang. Semuanya ini nampak jelas dalam banyak segi hidup manusia. Manusia sebagai daging adalah lemah dan bergantung pada belas kasihan Allah; sama seperti semua makhluk lainnya. Bahkan dalam memanaatkan alam untuk melayani kebutuhannya, manusia harus melayani alam ini, harus menjaganya dan mengolahnya untuk mencapai tujuannya. Manusia tunduk kepada hukum-hukumyang sama, seperti kaidah alam, dan ia dapat terpesona di tengah-tengah keagungan dunia yang menjadi tempat hidupnya.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;I. Tujuan Manusia&lt;br /&gt;Manusia mempunyai sejarah dan masa depan yang harus digenapi, unik di tengah-tengah makhluk dan ciptaan lainnya. Kitab Kejadian mencatat bahwa waktu Allah menciptakan manusia, ia mengambil sikap yang menunjukkan perhatian yang sangat pribadi dan mendalam terhadap manusia itu. Dan cara pendekatan Allah ialah melibatkan diri-Nya dalam hubungan yang lebih erat dengan manusia ciptaan-Nya itu, dibandingkan dengan makhluk ciptaan yang lain. Allah mendekati manusia dengan menyapa 'engkau', dan manusia dimampukan menanggapi ucapan Allah yang penuh kasih itu dengan kasih pribadi dan kepercayaan. Hanya dalam jawaban demikianlah manusia bisa menjadi 'apa sebenarnya dia'. Firman Allah yang olehnya manusia hidup, menempatkan manusia dalam suatu hubungan yang meninggikan dia di atas semua ciptaan lain di sekelilingnya, dan mengaruniakan kepadanya martabat sebagai anak Allah, yang diciptakan menurut citra Allah dan memantulkan kemuliaan Allah. Manusia memiliki martabat ini bukan sebagai perseorangan terisolir di hadapan Allah, tapi hanya jika ia berada dalam hubungan yang bertanggung jawab dan penuh kasih terhadap sesamanya manusia. Hanya bila ia berada di tengah-tengah lingkungan keluarganya dan dalam hubungan sosialnya, ia dapat betul-betul memantulkan citra Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. Struktur Manusia&lt;br /&gt;Ada beberapa kata yang dipakai untuk menerangkan hubungan manusia dengan Allah dan alam sekitarnya, juga tentang struktur dirinya sendiri. Kata-kata itu ialah: roh (Ibrani: ruakh, Yunani: pneuma), jiwa (Ibrani: nefesy, Yunani: psuche), badan (Yunani: soma), daging (Ibrani: basar, Yunani: sarx). Kata-kata ini dipakai bertalian dengan aneka ragamnya kegiatan manusia atau kepribadiannya, masing-masing dengan tekanannya yang khas; tapi kata-kata itu tidak boleh diartikan mengacu pada bagian-bagian yang terpisah-pisah, atau bagian-bagian yang dapat dipisah-pisahkan, seolah-olah yang satu dapat ditambahkan kepadayang lain untuk menciptakan seorang manusia.&lt;br /&gt;Kata 'jiwa' boleh jadi menekankan unsur perseorangan dan kuasa hidup manusia itu, dengan penekanan pada hidup batinya, perasaannya dan kesadaran dirinya. Kata 'badan' dipakai untuk menekankan kaitan sejarah dan lahiriah yang mempengaruhi hidupnya. Tetapi jiwa ialah jiwa, yang memang harus disatukan dengan badanya, dan demikian sebaliknya. Manusia juga mempunyai hubungan dengan Roh Allah sehingga ia sendiri mempunyai roh, tapi sekalipun demikian manusia tidak bisa disebut suatu roh, dan roh juga tidak dianggap sebagai unsur ketiga dari diri manusia. Manusia sebagai 'daging' ialah manusia dalam hubungannya dengan dunia alam dan dengan umat manusia sebagai keseluruhan, tidak hanya dalam kelemahannya tetapi juga dalam kedosaannya dan pemberontakannya terhadap Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. Hakikat Manusia&lt;br /&gt;Dalam bagian ini, akan dikemukakan beberapa pokok antropologi Alkitab tentang manusia sebagai titik tolak untuk memahami hakikat manusia.&lt;br /&gt;Pertama, &lt;i&gt;manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan&lt;/i&gt;. Kesaksian Alkitab yang paling awal tentang manusia adalah manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan. Manusia tidak terjadi dengan sendirinya melalui proses evolusi. Manusia diciptakan berbeda dari makhluk hidup lain termasuk kera dan karenanya bukan keturunan kera. Sebagai ciptaan Tuhan maka Tuhan adalah sumber hidup dan Tuhan berdaulat atas kehidupan dan tujuan hidup manusia. Sebagai makhluk, manusia tidak akan pernah sama dengan penciptanya. Betapa hebatnya potensi rasional manusia, ia tetap makhluk dengan segala keterbatasannya. Sebab itu manusia perlu mensyukuri kemakhlukan yang diciptakan berbeda dengan makhluk lain, namun dibalik keistimewaannya, ada tanggung jawab.&lt;br /&gt;Kedua, &lt;i&gt;manusia sebagai makhluk sosial&lt;/i&gt;. Manusia sebagai makhluk sosial menunjuk kepada kecenderungan manusia yang tetap untuk berorientasi terhadap sesamanya manusia. Orientasi yang tetap ini mengambil bentuk dalam terciptanya berbagai pranata sosial mulai dari yang paling sederhana seperti keluarga sampai kepada yang sangat kompleks seperti Negara dsb. Realitas itu dapat membuktikan bahwa sesungguhnya manusia mempunyai kebutuhan sosial atau kebutuhan akan relasi-relasi sosial. Lebih jauh lagi, manusia juga menciptakan norma-norma sosial yang mengatur perilaku dalam kaitannya dengan relasi-relasi sosial a.l. seperti kepercayaan, nilai-nilai dsb. Manusia tidak bisa menjadi orang percaya sendirian, tetapi selalu dan bersama dengan orang lain. Agama tidak boleh hanya mementingkan dimensi vertikal saja dalam aktivitas keagamaannya, melainkan juga harus memberi tempat yang sentral terhadap dimensi horisontal, atau sesama manusia dan makhluk ciptaan yang lain. Oleh karena itu, identitas agama, suku atau ras tidak menjadi tembok pemisah antar manusia, sebaliknya menjadi pendorong untuk terciptanya hubungan sosial yang harmonis karena identitas universal kemanusiaan yang sama yakni sebagai makhluk ciptaan Tuhan.&lt;br /&gt;Ketiga, manusia sebagai makhluk rasional. Bahwa manusia diciptakan berbeda dari makhluk lain sudah jelas manusia memiliki potensi rasional. Potensi ini memungkinkan manusia dapat mengembangkan kebudayaan dalam arti luas. Fakta ini menjadi sangat jelas dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Potensi inilah yang membawa manusia pada kemajuan iptek sampai pada tingkat yang canggih dewasa ini. Tetapi kemudian, sebagai makhlik rasional tidak menjadikan manusia bersifat tamak dengan mengeksploitasi alam semau manusia. Sebab jika manusia tidak bertanggung jawab memelihara alam, maka alampun tak akan memelihara manusia.&lt;br /&gt;Keempat, &lt;i&gt;manusia sebagai makhluk etis&lt;/i&gt;. Sebagai makhluk etis manusia mempunyai potensi dan kapasitas untuk mempertanyakan dan membedakan apa yang baik, benar dan sebaliknya. Manusia tidak saja mampu membedakan mana yang baik dari yang tak baik secara etis, namun manusia juga mempunyai kebebsan untuk memilih yang baik atau yang buruk. Manusia mempunyai kebebasan untuk memilih sekaligus mempertanggungjawabkan pilihannya. Semua relasi manusia, apakah dengan Tuhan, sesama dan alam semesta ini ada nilai-nilai etis yang mengatur hubungan itu: sejauh manakah hubungan itu bertanggung jawab atau sebaliknya. [] &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Read More&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599533476917537716-4538592076389097661?l=lopuhaa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lopuhaa.blogspot.com/feeds/4538592076389097661/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lopuhaa.blogspot.com/2009/11/manusia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599533476917537716/posts/default/4538592076389097661'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599533476917537716/posts/default/4538592076389097661'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lopuhaa.blogspot.com/2009/11/manusia.html' title='MANUSIA'/><author><name>Agus Lopuhaa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08707657824390767254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_Euu8TTQjEkw/SRqBK8H5dhI/AAAAAAAAAA4/wwqeGvzZoxw/S220/Love+Us.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599533476917537716.post-3168676683286922183</id><published>2009-11-27T03:11:00.002+09:00</published><updated>2009-11-27T03:19:20.153+09:00</updated><title type='text'>AKHIRNYA</title><content type='html'>Hampir 1 tahun blog ini tidak berfungsi. Sibuk??? tidak juga. Karena masih ada banyak waktu untuk menulis. Rupanya masalahnya cuma satu, lupa Password. Hehehe.... memang keterlaluan. Tapi itulah otak manusia, yang kadangkala memiliki daya tampung terbatas, apalagi kalau tidak sesering mungkin kita lakukan hal itu. Yah... seperti blog ini. Tapi syukurlah, karena coba mengingat-ingat apa kira-kira passwordnya, eh baru ditemukan, terselip di antara buku-buku.&lt;br /&gt;So... mulai sekarang ide-ide liar coba dituangkan lagi, supaya jangan ada pertanyaan dari sahabat karib yang sudah dianggap sebagai saudara sendiri, Jususf Anamova, bahwa "Agus Engkau Dimana?"&lt;br /&gt;A K H I R N Y A&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Read More&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599533476917537716-3168676683286922183?l=lopuhaa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lopuhaa.blogspot.com/feeds/3168676683286922183/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lopuhaa.blogspot.com/2009/11/akhirnya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599533476917537716/posts/default/3168676683286922183'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599533476917537716/posts/default/3168676683286922183'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lopuhaa.blogspot.com/2009/11/akhirnya.html' title='AKHIRNYA'/><author><name>Agus Lopuhaa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08707657824390767254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_Euu8TTQjEkw/SRqBK8H5dhI/AAAAAAAAAA4/wwqeGvzZoxw/S220/Love+Us.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599533476917537716.post-2134010637738192809</id><published>2009-01-16T12:31:00.001+09:00</published><updated>2009-01-16T12:37:45.456+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>TUHAN, ENGKAU ADA DI MANA??</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;Sering ku tanya pada diriku sendiri,&lt;br /&gt;Dimanakah Engkau Tuhan???&lt;br /&gt;Bila aku berada dalam barisan orang-orang yang memikul salib-Mu&lt;br /&gt;Aku masih bertanya,&lt;br /&gt;Dimanakah Engkau Tuhan???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah Tuhan….&lt;br /&gt;Ada apa dengan-Mu, sampai begitu sulit aku mencari Engkau&lt;br /&gt;Aku pergi ke tempat penyembahan-Mu&lt;br /&gt;Di sana aku lihat banyak orang dengan pakaian yang serba indah,&lt;br /&gt;Harumnya wewangian terkadang membuat nafasku sesak,&lt;br /&gt;Tapi kenapa di sana Engkau begitu jauh???&lt;br /&gt;Aku tak bisa menggapai-Mu, karena tanganku terlipat&lt;br /&gt;Aku tak bisa melihat-Mu, karena mataku tertutup&lt;br /&gt;Aku hanya mendengar nama-Mu di sebut, tapi kenapa Engkau jauh???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu aku menyusuri jalan berdebu, di tengah pekatnya malam&lt;br /&gt;Aku masih mencari Engkau, dengan sebotol minuman di tanganku.&lt;br /&gt;Ah….. kupikir Engkau ada dalam botol itu,&lt;br /&gt;Tapi aku berpikir apakah Engkau juga bisa memabukkan aku???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berjalan terus menuju ke tempat pelacuran,&lt;br /&gt;Mungkinkah Engkau di sana???&lt;br /&gt;Mungkinkah Engkau melacurkan diri???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pencarianku yang semakin jauh,&lt;br /&gt;Aku melihat begitu banyak orang yang tidur di kolong jembatan&lt;br /&gt;Mungkinkah Engkau di sana???&lt;br /&gt;Sehingga dengan damai mereka membaringkan tubuh dari kepenatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah Tuhan…..&lt;br /&gt;Semakin jauh aku mencari Engkau,&lt;br /&gt;Saat itu pula Engkau semakin jauh dariku.&lt;br /&gt;Aku bertanya pada alam ini,&lt;br /&gt;Di manakah Engkau???&lt;br /&gt;Tapi mereka mentertawakan aku,&lt;br /&gt;Dalam desiran angin, panasnya matahari dan derasnya hujan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam keheningan aku merenungkan semuanya,&lt;br /&gt;Hidupku, karyaku, pengabdianku.&lt;br /&gt;Aku dengar, dengan lembut Engkau berbisik kepadaku:&lt;br /&gt;Kenapa begitu jauh kamu mencari Aku, anak-Ku&lt;br /&gt;Aku tidak jauh, sebab Aku ada dalam hatimu&lt;br /&gt;Aku tidak jauh, anak-Ku&lt;br /&gt;Sebab Aku ada di mana-mana&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Read More&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599533476917537716-2134010637738192809?l=lopuhaa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lopuhaa.blogspot.com/feeds/2134010637738192809/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lopuhaa.blogspot.com/2009/01/tuhan-engkau-ada-di-mana.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599533476917537716/posts/default/2134010637738192809'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599533476917537716/posts/default/2134010637738192809'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lopuhaa.blogspot.com/2009/01/tuhan-engkau-ada-di-mana.html' title='TUHAN, ENGKAU ADA DI MANA??'/><author><name>Agus Lopuhaa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08707657824390767254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_Euu8TTQjEkw/SRqBK8H5dhI/AAAAAAAAAA4/wwqeGvzZoxw/S220/Love+Us.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599533476917537716.post-1653779727760066777</id><published>2009-01-13T10:03:00.001+09:00</published><updated>2009-01-13T10:07:36.011+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sosial'/><title type='text'>AGAMA, HAM DAN DEMOKRASI</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;1.     Agama Yang Memanusiakan Manusia&lt;br /&gt;Peradaban manusia di abad millennium III sangat membutuhkan kembali hadirnya agama, yaitu agama dengan paradigma moral. Agama yang sanggup menggairahkan inisiatif umat dalam pemberdayaan demi terwujudnya kehidupan masyarakat yang beradab dan sejahtera. Suatu masyarakat yang berpondasikan penghormatan akan HAM maupun demokrasi. Singkatnya, peradaban masa kini dan mendatang sangat berkepentingan dengan hadirnya agama, agama yang memiliki kompetensi moral. Agama dengan paradigma moral yaitu agama yang memiliki visi memanusiakan manusia seutuhnya. Dalam hubungan dengan itulah peradaban manusia dewasa ini mendambakan agama yang berkemampuan memberdayakan keutuhan manusia. Agama secara fungsional mampu menjembatani jurang ritual dengan moral-spiritual warganya. Agama yang secara aktif menjadi lokomotif dalam menentukan arah peradaban manusia, pengembangan disiplin ilmu untuk percepatan diakhirinya krisis kemanusiaan.&lt;br /&gt;Agama harus menjadi berkat bagi masyarakatnya. Cita-cita itu akan terwujud jika saja agama secara internal merekonstruksi primordialitasnya yang potensial memicu lahirnya konflik horosontal dalam kehidupan masyarakat. Agama yang secara terus menerus dan ikhlas belajar dari sejarah peradaban manusia yang penuh dengan lumuran darah. Cerdas dan arif dengan kenyataan besarnya saham agama dalam memicu dan melestarikan pertikaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.     Agama Yang Memperjuangkan Masyarakat Beradab dan Sejahtera&lt;br /&gt;Masyarakat yang beradab dan sejahtera tidak akan pernah bias terwujud dengan sendirinya. Apalagi, di tengah kehidupan masyarakat bangsa Indonesia yang sedang mengalami berbagai dekadensi moral. Kita kini hidup dalam kenyataan semakin menipisnya rasa hormat akan hidup dan martabat manusia. Rasa perikemanusiaan seakan-akan telah secara sengaja dibunuh demi kepuasan prestise golongan. Kekerasan demi kekerasan di berbagai sektor kehidupan semakin membudaya dalam masyarakat. Kekerasan acapkali dipakai sebagai satu-satunya penyelesaian terhadap adanya berbagai sisi perbedaan pendapat, suku, agama, daerah, cita-cita, kepentingan atau aspirasi hidup.&lt;br /&gt;Ajaran Kristus untuk mewujudkan masyarakat yang beradab dan sejahtera secara eksplisit terdapat dalam hukum kasih. Kasih sebagai ajaran utama agama Kristen bersifat proaktif menggugah mata hati nurani menjalankan panggilan mengubah wajah buruk masyarakat kini. Panggilan itu menjadi suatu kewajiban setiap orang beriman menjadi garam dan terang (Mat. 5 : 13 – 16). Prinsip kasih yang proaktif menggerakkan orang beriman untuk melakukan advokasi saat orang miskin dilucuti kemanusiaannya dengan berbagai dalih pembenarannya. Di sisi lain, ia menjadi kekuatan penyadar ketika sejumlah individu berkompetisi memperkaya diri sendiri dengan menghalalkan berbagai cara. Pembungkaman ajaran kasih dengan keberpihakan kepada kekayaan, pada hakikatnya merupakan kejahatan keagamaan, pembunuhan kasih. Kasih yang proaktif merupakan pendorong yang tidak akan pernah keletihan untuk turut serta berpartisipasi dalam usaha keras membangkitkan kembali proses pemulihan dan reformasi bangsa untuk membarui Indonesia. Bersama-sama komponen bangsa lainnya bangkit menegakkannya bangsa Indonesia dari keterpurukan yang multi dimensi ini. Dalam melihat situasi yang suram ini, penglihatan kita dapat menjadi suram juga. Dengan pelita iman disertai kejernihan budi dan hati, mari kita coba juga melihat titik terang, hikmah yang dapat ditarik serta mutiara-mutiara sikap hidup yang indah yang masih dapat kita temukan di tengah masyarakat dan bangsa kita, untuk kita kembangkan bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.     Tegakkan HAM Dan Demokrasi Sebagai Ciri Masyarakat Yang Beradab dan Sejahtera.&lt;br /&gt;Masyarakat beradab pastilah mengakui adanya perbedaan sebagai kekayaan hidup bersama. Kualitas kesadaran HAM dan demokrasi dibuktikan dengan berkembangnya kesanggupan sikap toleransi, saling mendengarkan, saling menghargai, saling menghormati satu sama lain. Terciptanya kehidupan bersama yang secara arif dan penuh kerelaan membangun kebersamaan sebagai cara hidup, lebih dari hanya sloganisme atau ungkapan klise.&lt;br /&gt;Ada banyak contoh buruk tentang penghormatan HAM dan demokrasi sebagai sebuah retorika kosong bahkan cenderung sebuah manipulasi belaka. Wajarlah, jika kemudian melahirkan pribadi-pribadi pengkhianat dan pelacur moral yang berlindung dibalik nilai-nilai luhur HAM dan demokrasi. Di sisi lain, banyak orang begitu polos dan sederhana begitu saja berharap pada janji-janji HAM dan demokrasi tanpa melakukan apapun. Akibatnya kehidupan yang demokratis semakin jauh bahkan nyaris bagaikan suatu utopisme sejati. Pemutarbalikan fakta sosial seolah-olah ada keputusan kolektif yang diramu dengan pertimbangan publik yang luas dan atas keseimbangan atau harmoni. Dalih demokrasi didramatisasi dalam pentas kebijakan publik ditetapkan secara voting berdasarkan kuantitas kekuatan fraksi. Praktek voting memberi kesan sosial seakan-akan telah berlakunya prinsip demokrasi? Voting dirasionalisasikan sebagai bukti konstitusi rakyat telah melaksanakan demokrasi dan sekaligus melaksanakan HAM.&lt;br /&gt;Mekanisme voting menyisakan suasana psikologis sosial antara pihak yang menang dan kalah, menyisakan konflik laten bagaikan gunung es. Perasaan dipinggirkannya kelompok yang kalah, bukan hanya dalam kebijakan publik tetap bahkan hal-hal yang berhubungan dengan HAM. Ini merupakan suatu konsekuensi logis dipakainya kekuatan dalam menyelesaikan perbedaan dalam masyarakat. Di sisi lain ketidakdewasaan dan keterbatasan memahami nilai demokrasi untuk membereskan konflik-konflik kepentingan secara damai penguatan sekat-sekat keutuhan hidup. Musnahnya semangat kejujuran dalam bermusyawarah demi terbangunnya kesepakatan, tidak saja menggambarkan ketidakdewasaan kita membangun demokrasi tetapi menjadikan HAM semakin mirip.Inti jiwa demokrasi terungkap dalam semboyan revolusi Perancis: &lt;em&gt;Liberte, egalite dan fraternite&lt;/em&gt; (kebebasan, persamaan dan persaudaraan). Artinya demokrasi hanya mungkin bertumbuh jika ada kedewasaan membangun kerja sama, dalam semangat kebebasan, persamaan dan persaudaraan. Sikap ksatria dalam menjunjung tinggi nilai kejujuran, kebersamaan dan keikhlasan perlu dikembangkan. Pergumulan kita dalam membangun demokrasi membutuhkan wawasan dan kemauan baik bahkan bisa saja malah “pengorbanan” sebagai harga tunai yang harus dibayarkan untuk menata kehidupan bersama.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Read More&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599533476917537716-1653779727760066777?l=lopuhaa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lopuhaa.blogspot.com/feeds/1653779727760066777/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lopuhaa.blogspot.com/2009/01/agama-ham-dan-demokrasi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599533476917537716/posts/default/1653779727760066777'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599533476917537716/posts/default/1653779727760066777'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lopuhaa.blogspot.com/2009/01/agama-ham-dan-demokrasi.html' title='AGAMA, HAM DAN DEMOKRASI'/><author><name>Agus Lopuhaa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08707657824390767254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_Euu8TTQjEkw/SRqBK8H5dhI/AAAAAAAAAA4/wwqeGvzZoxw/S220/Love+Us.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599533476917537716.post-7656232266821223808</id><published>2008-12-19T12:17:00.008+09:00</published><updated>2008-12-19T12:36:45.480+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Other Side'/><title type='text'>Manchester United</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_Euu8TTQjEkw/SUsU0BpV5-I/AAAAAAAAAC4/DOGc1eJB7Xk/s1600-h/lgsp0268+forever-united-man-utd-fc-club-badge-manchester-united-football-club-poster.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5281337872049629154" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 227px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_Euu8TTQjEkw/SUsU0BpV5-I/AAAAAAAAAC4/DOGc1eJB7Xk/s320/lgsp0268%2Bforever-united-man-utd-fc-club-badge-manchester-united-football-club-poster.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Manchester United F.C. (biasa disingkat Man Utd, Man United atau hanya MU, dibaca men yunaitid) adalah sebuah klub sepak bola Inggris yang berbasis di Old Trafford, Manchester.&lt;br /&gt;Dibentuk sebagai Newton Heath LYR F.C. pada 1878 sebagai tim sepak bola depot Perusahaan Kereta Api Lancashire dan Yorkshire Railway di Newton Heath, namanya berganti menjadi Manchester United pada 1902..&lt;br /&gt;Meski sejak dulu telah termasuk salah satu tim terkuat di Inggris, barulah sejak 1993 Manchester United meraih dominasi yang besar di kejuaraan domestik di bawah arahan Sir Alex Ferguson - dominasi dengan skala yang tidak terlihat sejak berakhirnya era Liverpool F.C. pada pertengahan 1970-an dan awal 1980-an. Sejak bergulirnya era Premiership di tahun 1992, Manchester United adalah tim yang paling sukses dengan delapan kali merebut tropi juara.Meskipun sukses di kompetisi domestik, kesuksesan tersebut masih sulit diulangi di kejuaraan Eropa; mereka hanya pernah meraih juara di Liga Champions tiga kali sepanjang sejarahnya (1968, 1999, 2008).&lt;br /&gt;MU menjadi salah satu klub paling sukses di Inggris; sejak musim 86-87, mereka telah meraih 20 trofi besar - jumlah ini merupakan yang terbanyak di antara klub-klub Liga Utama Inggris. Mereka telah memenangi 17 trofi juara Liga Utama Inggris. Pada tahun 1968, mereka menjadi tim Inggris pertama yang berhasil memenangi Liga Champions Eropa, setelah mengalahkan S.L. Benfica 4–1, dan mereka memenangi Liga Champions Eropa untuk kedua kalinya pada tahun 1999 dan sekali lagi pada tahun 2008 setelah mengalahkan Chelsea F.C. di final. Mereka juga memegang rekor memenangi Piala FA sebanyak 11 kali.&lt;br /&gt;Pada 12 Mei 2005, pengusaha Amerika Serikat Malcolm Glazer menjadi pemilik klub dengan membeli mayoritas saham yang bernilai £800 juta (US$1,47 milyar) seiring dengan banyaknya protes dari para pendukung fanatik.&lt;br /&gt;Setiap kali MU bertanding, para fansnya selalu menyanyikan lagu ”Glory-glory Manchester United”. Lagu ini diadopsi dari ”Battle Hymn Of Republic”.&lt;br /&gt;Memang lagu ini terdengar religius karena liriknya yang ada kata-kata glory hallelujah... Baca lirik aslinya yang lengkap juga seperti lagu rohani. Tapi, aslinya ini lagu perang... Ya, lagu perang. Tapi sebelumnya sudah dinyanyikan untuk keperluan religius pada tahun 1855 dengan judul Canaan Happy Shore.&lt;br /&gt;Tapi lagu ini jadi tambah terkenal saat Perang Saudara. Lagu ini dinyanyikan oleh tentara Union Amerika (kalau di film seragamnya warna biru gelap, lawannya Confederate Army berseragam abu-abu). Lirik awalnya berisi cemoohan bercanda pada seorang teman mereka yang aslinya orang Scotland.&lt;br /&gt;Kebetulan namanya sama dengan seorang lain yang adalah pahlawan, John Brown, dan sudah meninggal saat itu. Brown yang satu ini orangnya kocak dan suka terlambat. dan gegabah. Makanya dia sering jadi bulan-bulanan yang lainnya dan salah satu anggota pasukan itu, Thomas Bishop, membuat lagu ini.John Brown's body lies a-mouldering in the grave; (3X)&lt;br /&gt;&lt;em&gt;His soul's marching on!&lt;br /&gt;Glory, halle—hallelujah! Glory, halle—hallelujah!&lt;br /&gt;Glory, halle—hallelujah! his soul's marching on!&lt;br /&gt;(maksudnya John Brown khan dah mati tapi dia "hidup" lagi... jiwanya tetap berbaris... puji Tuhan Halleluya.)&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Lagu ini menjadi mars berjalan pasukan Bishop. Ketika pasukan Bishop ke Washington pada tahun 1861, Julia Ward Howe mendengar lagu ini dan atas permintaan Pdt. James Clark ia diminta mengubah liriknya agar bisa menjadi lagu perang seluruh pasukan Republik. Jadilah lagu dengan lirik lebih bagus. Isinya memang sangat religius. Ingat, bahwa Union waktu itu berperang salah satunya menjunjung pesan "suci" membasmi perbudakan. Jadi, battle hymn-nya terdengar seperti mereka ini adalah pasukan Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Mine eyes have seen the glory of the coming of the Lord:&lt;br /&gt;He is trampling out the vintage where the grapes of wrath are stored;&lt;br /&gt;He hath loosed the fateful lightning of His terrible swift sword:&lt;br /&gt;His truth is marching on.&lt;br /&gt;Glory, glory, hallelujah!&lt;br /&gt;Glory, glory, hallelujah!&lt;br /&gt;Glory, glory, hallelujah!&lt;br /&gt;His truth is marching on&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;So buat seluruh fans MU, inillah lirik Glory-glory Manchester United:&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;Glory glory Man united,&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;Glory glory Man united,&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;Glory glory Man united,&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;As the reds go marching on on on! &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;Just like the busby babes in days gone by,&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;We’ll keep the red flags flying high,&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;Your gonna see us all from far and wide,&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;Your gonna hear the masses sing with pride. &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;United, Man united,&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;We’re the boys in red and we're on our way to Wembley!&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;Wembley, Wembley,&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;We're the famous Man united and we're going to Wembley,&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;Wembley, Wembley,&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;We're the famous Man united and we're going to Wembley&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;In Seventy-Seven it was Docherty &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;Atkinson will make it Eighty-Three &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;And everyone will no just who we are,&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;They'll be singing que sera sera &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;United, Man united,&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;We’re the boys in red and we're on our way to Wembley! &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;Wembley, Wembley,&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;We're the famous Man united and we're going to Wembley,&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;Wembley, Wembley,&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;We're the famous Man united and we're going to Wembley&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;Glory glory Man united,&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;Glory glory Man united,&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;Glory glory Man united,&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;As the reds go marching on on on! &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;Glory glory Man united,&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;Glory glory Man united,&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;Glory glory Man united,&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;As the reds go marching on on on!&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Read More&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599533476917537716-7656232266821223808?l=lopuhaa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lopuhaa.blogspot.com/feeds/7656232266821223808/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lopuhaa.blogspot.com/2008/12/manchester-united.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599533476917537716/posts/default/7656232266821223808'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599533476917537716/posts/default/7656232266821223808'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lopuhaa.blogspot.com/2008/12/manchester-united.html' title='Manchester United'/><author><name>Agus Lopuhaa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08707657824390767254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_Euu8TTQjEkw/SRqBK8H5dhI/AAAAAAAAAA4/wwqeGvzZoxw/S220/Love+Us.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Euu8TTQjEkw/SUsU0BpV5-I/AAAAAAAAAC4/DOGc1eJB7Xk/s72-c/lgsp0268%2Bforever-united-man-utd-fc-club-badge-manchester-united-football-club-poster.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599533476917537716.post-5513127857584395400</id><published>2008-12-10T18:48:00.003+09:00</published><updated>2008-12-16T15:29:58.920+09:00</updated><title type='text'>Apakah Agama Itu?</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Dalam tulisan saya tentang "Tangkap Tikusnya", bung Steve Gaspersz memberikan komentar yang mencoba “merangsang” saya untuk berpikir tentang apakah agama itu.&lt;br /&gt;Banyak pendapat yang bermunculan tentang mengapa agama selalu hadir dalam kehidupan manusia. Salah satunya, hal itu disebabkan oleh karena manusia menyadari akan keterbatasannya, dan berpaling kepada sesuatu yang dianggap tak terbatas. Dengan demikian, agama dianggap tidak lebih dari suatu pelarian, bahkan dianggap sebagai ciptaan manusia. Ketika ilmu dan teknologi mengalami kemajuan untuk menjawab berbagai keterbatasan manusia, maka peran agama digantikan dengan ilmu dan teknologi, dan agama mengalami kemerosotan. Namun walaupun agama mengalami kemerosotan, fenomena agama tak pernah hilang sama sekali, bahkan kini era kebangkitan agama sementara dijalani manusia. Hal ini karena ilmu dan teknologi tak pernah bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan terdalam dari manusia misalnya mengenai tujuan hidup.&lt;br /&gt;Kebanyakan orang telah memiliki ide tentang apa itu agama. Mereka mungkin akan berpikir tentang kepercayaan kepada Tuhan, roh-roh supranatural, ataupun kehidupan setelah mati. Atau mungkin mereka akan menyebut satu dari agama-agama besar dunia, seperti Hindu, Budha, Kristen, Islam. Satu konsep yang biasanya dipandang menjadi karakteristik dari segala sesuatu yang religius adalah konsep supranatural. Yang Supranatural adalah tatanan hal-ihwal yang berada di luar kemampuan pemahaman manusia ; yang supranatural adalah dunia misteri, yang tidak bisa diketahui atau yang tidak bisa ditangkap akal dan dicerap indera. Maka agama menjadi semacam spekulasi terhadap segala sesuatu yang ada di luar ilmu pengetahuan dan akal sehat pada umumnya. Agama yang ajaran-ajarannya kadang saling berlawanan, diam-diam sepakat bahwa dunia dengan segala isi dan segala yang melingkupinya adalah sebuah misteri yang membutuhkan penjelasan. Agama pada dasarnya berisi keyakinan akan adanya sesuatu yang mahakekal yang berada di luar pengetahuan manusia. Dengan kata lain, agama sebagai usaha untuk memahami apa-apa yang tak dapat dipahami dan untuk mengungkapkan apa yang tak dapat diungkapkan; sebuah keinginan kepada sesuatu yang tidak terbatas.&lt;br /&gt;Secara umum agama merupakan sesuatu yang benar-benar bersifat sosial. Representasi-representasi religius adalah representasi-representasi kolektif yang mengungkapkan realitas-realitas kolektif. Ritus-ritus merupakan bentuk tindakan yang hanya lahir di tengah kelompok-kelompok manusia dan tujuannya adalah untuk melahirkan, mempertahankan atau menciptakan kembali keadaan-keadaan mental tertentu dari kelompok-kelompok itu. Wadah di mana representasi terbentuk inilah yang melahirkan perbedaan. Representasi kolektif adalah hasil dari kerjasama begitu rumit yang tidak hanya meluas di dalam ruang tapi juga di sepanjang waktu.&lt;br /&gt;Sigmund Freud dan Karl Marx menganggap agama bukan hanya salah, tetapi menurut standar moralitas dan kenormalan agama adalah sesuatu yang jahat. Dengan kata lain bagi Freud-Marx agama tidak lebih sebagai candu bagi masyarakat. Ia adalah sesuatu yang tidak sehat dan disfungsional, sejenis penyakit yang harus dicoba disembuhkan oleh orang. E. B. Tylor menguraikan agama dengan merujuk pada kepercayaan pada makhluk-makhluk spiritual. Emile Durkheim mendefenisikan agama sebagai hal yang berkenaan dengan yang sakral, dan kemudian lebih lanjut mengidentifikasi yang sakral dengan yang sosial. Baginya, masyarakat dipuja sebagai Tuhan.&lt;br /&gt;Dari berbagai teori di atas, agama dapat diartikan sebagai pencarian manusia (bahasa bung Steve, bentukan intepretatif) terhadap kekuatan tertinggi (supranatural) serta hubungan denganNya. Hubungan itu ada dalam bentuk ritus-ritus atau upacara-upacara. Dalam pemahaman seperti ini, ada dua hal yang terkandung di dalam agama yaitu Kepercayaan dan Ritus/upacara. Kepercayaan merupakan pendapat-pendapat (states of opinion) dan terdiri dari representasi-representasi. Sedangkan ritus merupakan bentuk-bentuk tindakan (action) yang khusus. Di antara dua hal tersebut, terdapat jurang yang memisahkan cara berpikir (thinking) dan cara berperilaku (doing). Ritus dapat dibedakan dari tindakan-tindakan (practice) manusia lainnya – misalnya tindakan moral (moral practice) – berdasarkan kekhasan hakikat apa yang jadi objeknya. Objek ritus harus ditentukan karakteristiknya terlebih dahulu, agar karakter ritus itu bisa ditentukan. Dan kekhasan objek ritus terungkap dalam kepercayaan. Oleh sebab itu, hanya setelah mendefenisikan kepercayaan kita barulah bisa mendefenisikan ritus.&lt;br /&gt;Terhadap pertanyaan Bung Steve, apakah sejauh ini agama masih independen dan otonom? Seharusnya demikian. Independen artinya harus bebas dari kepentingan-kepentingan kelompok tertentu (di luar agama) yang ingin memanfaatkan agama untuk mencapai tujuannya. Seperti inter-penetrasi agama dan politik (dalam tulisan Realitas Beragama Di Indonesia). Fungsinya harus sebagai kekuatan korektif yang menyuarakan nilai-nilai moral dalam masyarakat. Otonom artinya urusan suatu agama (menyangkut dogmanya) menjadi urusan agama itu sendiri. Ia tidak bisa “diintervensi” oleh agama lain termasuk pemerintah. tetapi bukan berarti para penganutnya lalu bersikap fanatik dan primordial. Apabila agama-agama semakin kehilangan dayanya sebagai kekuatan moral, maka dalam masyarakat akan hidup nilai-nilai yang dangkal dan lemah. Dengan itu masyarakat akan lekas lelah secara moral dan menyukai kekerasan. Apa yang diharapkan dari agama-agama adalah sebuah proses pemikiran ulang dengan memberikan perhatian kepada soal-soal kemanusiaan bersama, sekalipun tetap dengan menggali kaidah etik dan moral dari agama. Pendekatan terhadap berbagai realitas masyarakat yang majemuk harus lebih terbuka, yaitu memandang diri sendiri selaku faktor komplementer dari kebulatan persoalan kemanusiaan yang lebih besar dan komprehensif. Tidak lagi membangkitkan semangat primodial yang menimbulkan sifat-sifat tertutup terhadap unsur-unsur luar yang dianggap asing dan mengancam. Yang dibutuhkan adalah memikirkan hubungan antar agama dalam suatu semangat untuk memikirkan makna pluralisme secara lebih serius dalam tradisi keagamaan masing-masing. Juga upaya membangun kembatan-jembatan spiritual-intelektual untuk memikirkan kembali relasi-relasi antara agama yang lebih sesuai dengan konteks persoalan kemanusiaan yang lebih mendesak dan menentukan pada masa sekarang ini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Read More&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599533476917537716-5513127857584395400?l=lopuhaa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lopuhaa.blogspot.com/feeds/5513127857584395400/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lopuhaa.blogspot.com/2008/12/apakah-agama-itu.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599533476917537716/posts/default/5513127857584395400'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599533476917537716/posts/default/5513127857584395400'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lopuhaa.blogspot.com/2008/12/apakah-agama-itu.html' title='Apakah Agama Itu?'/><author><name>Agus Lopuhaa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08707657824390767254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_Euu8TTQjEkw/SRqBK8H5dhI/AAAAAAAAAA4/wwqeGvzZoxw/S220/Love+Us.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599533476917537716.post-6466139679931706130</id><published>2008-12-10T13:03:00.005+09:00</published><updated>2008-12-16T15:30:31.415+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Tuhan... Terjepitkah Engkau?</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Oh Tuhan …………..&lt;br /&gt;Engkau yang termulia di seantero jagad ini&lt;br /&gt;Engkau yang menciptakan semua alam ini&lt;br /&gt;Termasuk manusia juga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh Tuhan …………..&lt;br /&gt;Kekuasaan-Mu tak terbatas&lt;br /&gt;Melampaui batas-batas kekuasaan manusia&lt;br /&gt;Seakan manusia tak berarti bila berhadapan dengan - Mu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi Tuhan ……….&lt;br /&gt;Kami terkadang menganggap kami lebih dari Engkau&lt;br /&gt;Kami menjadikan kekuatan kami melebihi kekuatan-Mu&lt;br /&gt;Lalu Engkau seakan tidak berarti dalam hidup kami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan ……………….&lt;br /&gt;Engkau kan hadir untuk semua orang&lt;br /&gt;Kehadiran yang universal&lt;br /&gt;Menembusi batas-batas manusia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Tuhan …………..&lt;br /&gt;Dalam ego kami sebagai manusia&lt;br /&gt;Kami hanya melihat Engkau menjadi milik kami sendiri&lt;br /&gt;Dan orang lain bukan menjadi milik-Mu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh Tuhan …………&lt;br /&gt;Terjepitkah Engkau???&lt;br /&gt;Saat kami mengklaim engkau hanya menjadi milik kami&lt;br /&gt;Terpasungkah Engkau???&lt;br /&gt;Saat kami dengan keangkuhan&lt;br /&gt;Menjadikan Engkau milik sekelompok orang saja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ampuni kami Tuhan ………&lt;br /&gt;Bila kami menjepit Engkau dalam batasan-batasan kami&lt;br /&gt;Bila kami memasung Engkau dalam kelompok tertentu&lt;br /&gt;Sebab kami tahu Engkau itu universal&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Read More&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599533476917537716-6466139679931706130?l=lopuhaa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lopuhaa.blogspot.com/feeds/6466139679931706130/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lopuhaa.blogspot.com/2008/12/oh-tuhan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599533476917537716/posts/default/6466139679931706130'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599533476917537716/posts/default/6466139679931706130'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lopuhaa.blogspot.com/2008/12/oh-tuhan.html' title='Tuhan... Terjepitkah Engkau?'/><author><name>Agus Lopuhaa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08707657824390767254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_Euu8TTQjEkw/SRqBK8H5dhI/AAAAAAAAAA4/wwqeGvzZoxw/S220/Love+Us.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599533476917537716.post-1637156365663903961</id><published>2008-12-09T15:29:00.007+09:00</published><updated>2008-12-16T15:31:03.193+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pluralisme Agama'/><title type='text'>Tangkap Tikusnya</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;I&lt;br /&gt;Masohi rusuh lagi. Menjadi headline di media-media lokal dan beberapa media nasional, ketika hendak membuat tulisan ini. Dari informasi yang di dapat, puluhan rumah terbakar, fasilitas umum berupa puskesmas dan balai desa juga ikut terbakar, serta bangunan gereja (darurat) di Letwaru dibakar oleh orang-orang Lesane (kebetulan kedua desa ini berdekatan). Apa yang menjadi akar masalah sehingga ada tindakan anarkhis demikian? Rupanya ada seorang guru SD Negeri 4 Masohi (Welhelmina Holle) mengeluarkan perkataan kepada para siswanya yang menyinggung perasaan umat Muslim di Masohi, karena pernyataan tersebut dianggap melecehkan Nabi Muhammad SAW. Akhirnya, warga Masohi, termasuk warga Lesane, yang beragama Muslim melakukan demonstrasi di Polres Maluku Tengah menuntut pemulihan nama baik dan sang guru tersebut harus mempertanggungjawabkan perkataannya. Setelah aksi demonstrasi tersebut, warga kemudian kembali melakukan tindakan anarkhis di terminal Binaya Masohi dan berlanjut dengan penyerangan terhadap pemukiman Letwaru. Korban pun berjatuhan, ada yang terluka dalam peristiwa tersebut. Pertanyaannya, apakah sang guru dalam pernyataannya mengatasnamakan umat Kristen? Apakah Letwaru sebagai suatu pemukiman yang “kebetulan” banyak didomisili oleh umat Kristen juga harus menanggung akibat dari “pelecehan” tersebut? Analoginya, jika tikus ada di dapur, apakah dapurnya harus dibakar ataukah tikusnya yang ditangkap? Walahualam……..&lt;br /&gt;Saya lalu berpikir, apa sebetulnya yang terjadi dengan kondisi beragama kita akhir-akhir ini. Mengapa lalu orang begitu cepat mengambil tindakan anarkhis ketika ajaran agamanya “disentuh”? Mengapa segala sesuatu menyangkut agama sangat sensitif sifatnya?&lt;br /&gt;Apakah demikian menunjukkan bahwa penganut agama masih beragama dalam kerangka mitos? Bisa saja dikatakan demikian. Mitos kisah atau deskripsi yang benar bukanlah benar secara harafiah, tetapi bagaimanapun juga mengekspresikan dan cenderung menimbulkan sikap yang benar terhadap objek mitos tersebut. Contohnya dengan melihat mitos religius yang sangat terkenal, kisah penciptaan dalam tujuh hari dan kejatuhan Adam dan Hawa, serta pengusiran keduanya dari taman Eden. Hal itu bukanlah kebenaran literal tetapi mungkin kebenaran mitologis, sebagai cara untuk mengatakan bahwa dunia adalah ciptaan ilahi dan manusia adalah manusia yang tak sempurna yang hidup dalam dunia yang tak sempurna juga. Dalam kasus seperti ini, apa yang dikatakan oleh mitos dapat juga disebut dalam istilah literal, tetapi tidak begitu hidup.&lt;br /&gt;Dalam masing-masing kasus, nilai mitos adalah berbicara dalam cara yang kongkret dan dapat divisualisasikan sehingga menarik bagi imajinasi dan karenanya dapat meresap ke dalam pikiran, biasanya mempengaruhi sikap seorang dengan lebih kuat ketimbang pernyataan-pernyataan abstrak. Karena itu, signifikasi mitos terletak di dalam kekuatan pengungkapannya ketimbang dalam kebenaran mutlaknya yang tidak dapat diekspresikan. Namun dalam hal tertentu, mitos memang menyampaikan sesuatu yang tidak dapat disampaikan, karena mitos ini memperluas metafora. Metafora dapat diartikan sebagai sesuatu yang ‘digenerasikan’ oleh hubungan dua bagian dari berbagai ide. Metafora melibatkan sebuah pelintasan makna: suatu istilah diterangkan dengan menambahkan kepadanya sebuah asosiasi istilah lainnya. Keterbukaan jaringan asosiasi ini mencegah metafora ditafsirkan secara literal, karena itu tidak bisa dibatasi pada asosiasi-asosiasi tertentu saja. Saat metafora semakin berkembang, maka batas-batas semantik mitos semakin berkurang sehingga tidak dapat digantikan oleh pernyataan yang sepenuhnya literal. Tetapi ini hanya dalam kasus di mana mitos benar-benar bersifat mistis. Sehingga sangat keliru jika mitos dapat diekspresikan dengan cara lain. Kemisteriusannya terkandung di dalam jangkauan asosiasinya yang tidak terbatas, yang tidak bisa ditekan menjadi translasi literal tunggal.&lt;br /&gt;Pada hakikatnya mitos bukan hal yang jelek, karena dengannnya kehidupan manusia mempunyai konteks makna yang berharga. Akan tetapi mitos menjadi potensi destruktif bila didudukkan sebagai kekuatan dan kemapanan hirarki sosial. Penyelewengan mitos sebagai kekuatan status quo ini akan membentuk rancangan ideologi kemapanan yang tangguh. Inilah yang oleh Arkoun disebut sebagai proses pemistikan, yakni penggunaan mitos yang bertentangan dengan fungsi dan maknanya. Inilah corak utama gaya berteologi (theologizing) masyarakat agama saat ini; bangkitnya neo-otodoksi bercanggah di atas kerangka paradigma di atas. Mitos dijadikan sebagai penyangga ideologi. Dan tidak mustahil bahwa tragedi-tragedi kemanusiaan akan terus berlangsung. Oleh karenanya adalah tugas berat bagi umat beragama untuk mencari paradigma baru yang compatible dalam memaknai kondisi agama saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II&lt;br /&gt;Dalam tulisan saya yang berjudul Tuhan: Sebuah Realitas Budaya, saya mengatakan demikian:&lt;br /&gt;Agama berawal dari kesadaran manusia tentang relasinya dengan suatu kuasa supranatural yang dialaminya secara nyata, baik itu melalui gejala alam atau melalui daya pikir. Dalam tradisi agama-agama, baik itu agama besar maupun agama suku, kesadaran akan kehadiran Realitas Tertinggi sangat jelas terasa. Kesadaran ini muncul karena ada sebuah kekuatan supranatural yang berada di luar kekuatan manusia. Kekuatan yang diresponi itu kemudian dipersonifikasikan dalam nama yang berbeda-beda. Respons itu juga tidak terlepas dari budaya dan tradisi yang berkembang dalam situasi masyarakat di mana agama ini mulai berkembang. Deskripsi tentang Realitas Tertinggi terkandung dalam teologi dan filsafat dari perbedaan tradisi-tradisi yang membicarakan secara harafiah tentang Tuhan mereka. Dengan demikian, Realitas Tertinggi itu menyatakan diri melalui berbagai jalan. Hal ini berarti semua agama mempunyai inti yakni suatu pengalaman akan Realitas Tertinggi; bahwa dengan jalan yang banyak, semuanya merupakan sarana-sarana yang dipakai oleh Tuhan untuk membuat diriNya hadir bagi manusia. Tuhan mempunyai “hakikat-hakikat” yang berbeda-beda, yang dinyatakan oleh tradisi-tradisi keagamaan yang berbeda-beda. Dari pemahaman di atas, Tuhan dapat diartikan sebagai nama yang diberikan kepada kuasa yang supranatural tersebut.&lt;br /&gt;Jika demikian, agama adalah sesuatu yang independen dan otonom. Itu berarti agama bebas berkembang dan berlangsung dalam tatanan nilai yang dimiliki serta dipahami (diajarkan) oleh masing-masing kelompok. Ia tidak bisa dibatasi, apalagi diseragamkan, sebab penyeragaman agama adalah rediksionisme terhadap ajaran yang berbeda-beda. Setiap kelompok keagamaan memiliki kesempatan yang sama untuk hidup dan berkembang. Dalam kebersamaan yang demikian, maka beragama yang baik mesti dimengerti sebagai sebuah kerangka hidup bersama. Cara-cara beragama mesti dibangun di atas dasar budaya lokal, dengan tetap memaknai kebersamaan dan penghargaan atas nilai-nilai kemanusiaan. Bagaimana dengan Maluku? Beragama dalam konteks ke-Maluku-an orang Maluku bukan dilihat dari sejarah masuknya salah satu agama besar, tetapi kehidupan para leluhur yang mau berdampingan satu dengan yang lain dalam perbedaan tradisi, budaya, adat, jati diri dan sebagainya. Oleh karenanya, sangat mungkin harus dihindari penafsiran yang konvensional terhadap dokumen-dokumen keagamaan (alkitab, alquran dsb). Sebab hal ini dapat menimbulkan sikap fanatisme yang berujung pada konflik antar agama. Doktrin keagamaan mesti menjadi urusan rumah tangga agama itu. Doktrin agama tidak bisa dijadikan titik persinggungan antar agama. Yang harus ditetapkan dalam membangun keberagamaan adalah tema-tema yang sifatnya universal dan memanusiakan manusia yang arahnya untuk membangun hidup bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga jangan rusuh lagi…. PEACE.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Read More&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599533476917537716-1637156365663903961?l=lopuhaa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lopuhaa.blogspot.com/feeds/1637156365663903961/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lopuhaa.blogspot.com/2008/12/simbol-simbol-agama-mitos.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599533476917537716/posts/default/1637156365663903961'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599533476917537716/posts/default/1637156365663903961'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lopuhaa.blogspot.com/2008/12/simbol-simbol-agama-mitos.html' title='Tangkap Tikusnya'/><author><name>Agus Lopuhaa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08707657824390767254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_Euu8TTQjEkw/SRqBK8H5dhI/AAAAAAAAAA4/wwqeGvzZoxw/S220/Love+Us.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599533476917537716.post-2919245323097134846</id><published>2008-12-05T12:09:00.002+09:00</published><updated>2008-12-16T15:32:43.492+09:00</updated><title type='text'>Tuhan : Sebuah Realitas Budaya</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;Oleh: Agus Lopuhaa&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;Setiap agama besar menawarkan konsep yang komprehensif tentang alam semesta, dan sepanjang gambaran tersebut dipercayai dan dibentuk dalam struktur disposisional, agama-agama besar tersebut secara otomatis mempengaruhi cara hidup umatnya.&lt;br /&gt;Agama berawal dari kesadaran manusia tentang relasinya dengan suatu kuasa supranatural yang dialaminya secara nyata, baik itu melalui gejala alam atau melalui daya pikir. Dalam tradisi agama-agama, baik itu agama besar maupun agama suku, kesadaran akan kehadiran Realitas Tertinggi sangat jelas terasa. Kesadaran ini muncul karena ada sebuah kekuatan supranatural yang berada di luar kekuatan manusia. Kekuatan yang diresponi itu kemudian dipersonifikasikan dalam nama yang berbeda-beda. Respons itu juga tidak terlepas dari budaya dan tradisi yang berkembang dalam situasi masyarakat di mana agama ini mulai berkembang. Deskripsi tentang Realitas Tertinggi terkandung dalam teologi dan filsafat dari perbedaan tradisi-tradisi yang membicarakan secara harafiah tentang Tuhan mereka. Dengan demikian, Realitas Tertinggi itu menyatakan diri melalui berbagai jalan. Hal ini berarti semua agama mempunyai inti yakni suatu pengalaman akan Realitas Tertinggi; bahwa dengan jalan yang banyak, semuanya merupakan sarana-sarana yang dipakai oleh Tuhan untuk membuat diriNya hadir bagi manusia. Tuhan mempunyai “hakikat-hakikat” yang berbeda-beda, yang dinyatakan oleh tradisi-tradisi keagamaan yang berbeda-beda. Dari pemahaman di atas, Tuhan dapat diartikan sebagai nama yang diberikan kepada kuasa yang supranatural tersebut.&lt;br /&gt;Ajaran monotheisme besar menegaskan bahwa “seperti langit yang berada di atas bumi, demikian juga begitu besar cinta (Tuhan Bangsa Israel) kepada orang-orang yang takut kepadaNya”. Atau bahwa Bapa di sorga dari Perjanjian Baru adalah Tuhan dengan cinta yang tiada batas; atau Allah mengungkapkan diri dalam Al-Quran sebagai Maha Pengasih dan Penyayang. Sebagian besar umat Hindu juga berpandangan theis, dan Bhagavad Gita mengatakan tentang Wisnu, bahwa Dia adalah “Penguasa Agung” alam semesta dan sahabat semua makhluk. Tetapi beralih kepada keimanan non-theistik, Hinduisme Advaitik menegaskan bahwa hakikat terdalam adalah realitas Brahman yang tanpa batas. Atau dalam Buddhisme ditegaskan bahwa sifat manusia yang sejati adalah sama dengan sifat Budha yang universal dari semesta dan manusia harus menjadi dirinya yang sebenarnya.&lt;br /&gt;Masing-masing tradisi menarik garis perbedaan yang tegas antara keadaan yang darinya manusia diselamatkan atau dibebaskan, atau keadaan yang membuat manusia bangkit dengan keadaan yang lebih baik yang tanpa batas dan yang menunjukkan sebuah jalan.&lt;br /&gt;Dalam berbagai jalan, yang menawarkan konsep pembebasan dan penyelamatan, merupakan sebuah gambaran yang nyata tentang pluralisme. Masing-masing agama dibangun dari cerita-cerita atau simbol-simbolnya. Tetapi dalam sebuah komunitas global yang modern, agama yang satu tidak bisa lepas dari yang lain dalam membangun hubungan bersama. Jika Kristen katakan bahwa tak ada nama lain jika ingin diselamatkan selain dalam nama Yesus; Yahudi melihat bahwa Allah memilih umatNya untuk menerangi dunia; Muslim melihat Muhammad sebagai nabi yang terakhir, yang didalamnya merupakan penyataan Allah yang terakhir; atau juga Hindu dan Buddha yang memahami konsep kebenaran terakhir; semuanya merupakan gambaran manusia dalam memahami Tuhan, yang menyatakan diri. Memahami Tuhan tidak terlepas dari budaya dan tradisi yang berkembang dalam situasi masyarakat di mana pemahaman ini mulai berkembang.&lt;br /&gt;Dalam tradisi agama-agama besar, kesadaran akan kehadiran Tuhan sangat jelas terasa. Kesadaran ini muncul karena ada sebuah kekuatan supranatural yang berada di luar kekuatan manusia. Kekuatan yang diresponi itu kemudian dipersonifikasikan. Entah itu Yesus, Muhammad, Yahwe, Buddha, Krisna dan sebagainya.&lt;br /&gt;Dalam kesadaran moral, sebagian besar setuju jika itu adalah kebebasan berpikir manusia dan kebebasan untuk mempertanggungjawabkannya. Sehingga tidak ada yang harus mengatakan bahwa kebenaran dalam agama lain adalah sesuatu yang salah, sebab jika ada yang melakukannya itu adalah suatu kebodohan.&lt;br /&gt;Kesadaran manusia tentang Tuhan mengambil bentuk bermacam-macam, maka tidak semua kesadaran itu tersusun dalam konsep agama. Jika ada realitas ketuhanan, yang selalu dihadirkan dengan jelas, sejarah menunjukkan bahwa sementara realitas ini biasanya dialami dalam konteks keagamaan, ada kemungkinan realitas ini dialami, khususnya dalam kehidupan non religius, tanpa menggunakan konsep religius. Seperti misalnya dalam ajaran Marxis atau Mao yang melihat kebebasan manusia.&lt;br /&gt;Tuhan dapat dibagi dalam dua konsep pemahaman yang berbeda. Konsep yang pertama adalah Tuhan sebagai dewa atau sebagai personal. Konsep ini banyak berada dalam agama-agama teistik. Konsep yang pertama berangkat dari kenyataan setempat dalam komunitas dan budaya. Tuhan hadir sebagai personal dalam relasi dengan komunitas masyarakat itu. Personal itulah yang kemudian dilihat sebagai gambaran tentang Tuhan. Konsep yang kedua adalah Tuhan sebagai yang Absolut atau kebenaran terakhir atau juga sebagai non-personal. Konsep seperti ini banyak dalam agama-agama non-teistik.&lt;br /&gt;Tetapi tak satupun dari pengalaman di atas adalah Tuhan sendiri, meskipun semuanya merupakan manifestasi autentik dari Tuhan kepada manusia. Deskripsi tentang Tuhan terkandung dalam teologi dan filsafat dari tradisi-tradisi yang berbeda yang membicarakan secara harafiah (atau secara analogi) tentang Tuhan mereka, dan karena itu berbicara secara mitologis religius adalah kebenaran instrumental, yang terkandung di dalam kapasitasnya untuk membangkitkan dan mengembangkan respons manusia yang tepat kepada Tuhan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Read More&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599533476917537716-2919245323097134846?l=lopuhaa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lopuhaa.blogspot.com/feeds/2919245323097134846/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lopuhaa.blogspot.com/2008/12/tuhan-sebuah-realitas-budaya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599533476917537716/posts/default/2919245323097134846'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599533476917537716/posts/default/2919245323097134846'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lopuhaa.blogspot.com/2008/12/tuhan-sebuah-realitas-budaya.html' title='Tuhan : Sebuah Realitas Budaya'/><author><name>Agus Lopuhaa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08707657824390767254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_Euu8TTQjEkw/SRqBK8H5dhI/AAAAAAAAAA4/wwqeGvzZoxw/S220/Love+Us.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599533476917537716.post-8990182426478661231</id><published>2008-11-25T13:13:00.004+09:00</published><updated>2009-01-13T10:17:17.316+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>SEJARAH PERKEMBANGAN JEMAAT GPM MAKATIAN</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_Euu8TTQjEkw/SWvrVxrDguI/AAAAAAAAADI/CGHtr1ooO8U/s1600-h/Makatian.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5290580946620482274" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 289px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_Euu8TTQjEkw/SWvrVxrDguI/AAAAAAAAADI/CGHtr1ooO8U/s400/Makatian.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;A. Letak Geografis&lt;br /&gt;Jemaat GPM Makatian terletak di pesisir barat pulau Yamdena dengan jarak tempuh 6 – 7 jam dengan menggunakan motor laut, merupakan bagian dari Klasis Tanimbar Selatan dan menjadi batas dengan Klasis Tanimbar Utara. Secara administratif pemerintahan, Desa Makatian adalah bagian dari Kecamatan Wermaktian Kabupaten Maluku Tenggara Barat. Petuanan Desa Makatian adalah yang terbesar di seluruh pulau Yamdena, dengan batas-batas wilayah petuanan Makatian sebagai berikut:&lt;br /&gt;- Sebelah barat berbatasan dengan Pulau Kesbui (petuanan Seira);&lt;br /&gt;- Sebelah timur berbatasan dengan desa Arui;&lt;br /&gt;- Sebelah selatan berbatasan dengan desa Wermatang;&lt;br /&gt;- Sebelah utara berbatasan dengan desa Abat.&lt;br /&gt;Batas wilayah yang demikian luas menjadikan Makatian memiliki hutan yang luas dengan keanekaragaman Flora dan Fauna serta memiliki tanah yang subur. Ditengah-tengah petuanan Desa Makatian mengalir Sungai Rmoye yang merupakan sungai terpanjang dan terbesar di pulau Yamdena. Kekayaan hayati yang dimiliki bukan hanya di darat, tetapi juga di laut yang dipenuhi dengan berbagai jenis teripang, lola, berbagai jenis ikan, udang dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Demografi dan Bahasa&lt;br /&gt;Penduduknya adalah orang-orang asli Makatian, walaupun juga ada para pendatang yang datang di Makatian karena perkawinan. Namun mereka itu (para pendatang) telah manjadi bagian dari orang Makatian. Makatian adalah satu-satunya desa yang menggunakan bahasanya sendiri (bahasa Makatian) di antara lima bahasa yang ada di kepulauan Tanimbar, yakni Bahasa Timur (pesisir timur pulau Yamdena dan Adaut juga Latdalam), Bahasa Selaru (seluruh desa di Selaru dan di Latdalam kecuali Adaut), Bahasa Selwasa (Batuputih, Wermatang, Marantutul), Bahasa Fordata (Seira dan sebelah utara pulau Yamdena) dan Bahasa Makatian sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Sejarah Masyarakat dan Jemaat&lt;br /&gt;Nama asli Desa Makatian adalah Hnyo Matine (berasal dari kata Hnyo artinya kampung dan Matine artinya penjelmaan dari sesuatu yang belum ada menjadi ada). Nama Matine diambil dari nama moyang pertama orang Makatian yang hidupnya di goa istrinya bernama Bol. Mitos yang berkembang di Makatian bahwa Bol ini merupakan penjelmaan dari sejenis Pinang. Pada awalnya Matine hanya hidup seorang diri. Tiba-tiba dari pohon Pinang keluarlah seorang perempuan, dan Matine mengambilnya sebagai istri. Sampai saat ini, hanya orang-orang tertentu saja yang dapat mengetahui jenis pinang tersebut, terutama mereka yang bermarga Huninhatu. Pinang ini tidak bisa dimakan secara sembarangan, hanya digunakan dalam upacara adat tertentu dan hanya dari marga Huninhatu. Misalnya, upacara adat untuk pengambilan sumpah adat Kepala Desa bila ia berasal dari Marga Huninhatu.&lt;br /&gt;Nama lain dari Makatian adalah Morbol Fuartutul. Dalam perkembangan selanjutnya, mereka bertambah banyak, sehingga mereka memutuskan untuk mencari tempat tinggal yang lebih baik lagi dan keluar dari kehidupan di goa-goa. Dari mereka ini, lahirlah keturunan dengan marga Huninhatu (dari kata Hunine yang berarti tempat kediaman/rumah dan Hatue yang berarti batu). Berdasarkan cerita masyarakat sekitar tahun 1700-an ada beberapa marga yang bergabung dengan orang-orang Makatian (Layan, Manutmasa, Rumkedy, Manuhury, Basar, Kore, Rumenga) sehingga terbentuk komunitas yang lebih besar. Mereka terbagi atas dua Soa besar, yakni Soa Darat dan Soa Laut. Dalam bahasa Timur disebut dengan Soa Dai = Darat dan Soa Dol = Laut; Dalam Bahasa Makatian disebut dengan Soa Ryatu = Darat dan Soa Lote = Laut. Dari kedua Soa Besar terbagi atas beberapa anak soa lagi yakni Soa Darat terdiri atas soa Rbole dan Rmoye, sedangkan Soa Laut terdiri atas Soa Lote, Vatuk Mene, Saklia Inutun dan Kusali Kelbulan.&lt;br /&gt;Saat itu masih terjadi peperangan antar suku sebagai bentuk mencari kekuasaan dan perluasan wilayah suku, mengakibatkan orang-orang Matine terus melakukan perjalanan mencari tempat yang lebih aman. Singgalah mereka di dua tempat yakni Wesoir dan Welebit. Di sinilah mereka diperkenalkan dengan Injil Yesus Kristus yang dibawakan oleh guru-guru Injil. Perjumpaan mereka dengan agama Kristen melalui proses yang cukup panjang, karena mereka masih trauma dengan peperangan antar suku. Pernah juga Joseph Kam dengan menggunakan kapal Dourga saat mengabarkan Injil di kepulauan Tanimbar datang ke Makatian, namun ia ditolak oleh orang-orang Makatian. Mereka selalu menanggap bahwa orang-orang asing yang bukan sesuku dengan mereka adalah musuh dan menimbulkan ketidakpercayaan di kalangan masyarakat. Namun kesabaran dari para Guru Injil dapat menjadikan mereka memeluk agama Kristen. Berdasarkan catatan sejarah yang ada di jemaat, pembaptisan pertama terjadi pada tanggal 14 Oktober 1914 oleh Inlandsch Leraar Lopulalan dengan jumlah jiwa yang dibaptis sebanyak 45 orang. Namun sikap curiga masih tetap ada, sebab mereka dihadapkan dengan pemahaman yang sangat baru dan asing bagi mereka. Pada masa-masa awal itu, peperangan antar suku masih terus menghantui mereka. Orang-orang Makatian yang beribadah di Gereja masih membawa serta busur dan anak panah, tombak serta parang. Namun sejak Inlandsch Leraar Jacob Louhatu kebiasaan ini telah hilang. Atas kerjasama guru-guru Injil dan pemerintah Hindia Belanda, maka diamankanlah daerah di sekitar itu. Sehingga ada jaminan keamanan dan perlindungan dari peperangan antar suku yang diberikan, asalkan mereka mau memeluk agama Kristen.&lt;br /&gt;Kekurangan Alkitab sangat dirasakan oleh orang-orang Makatian pada saat itu. Oleh karenanya, selain khotbah yang disampaikan, maka pendidikan katekisasi juga dilakukan walaupun masih dalam batasan yang sangat sederhana, yakni dengan mengajarkan Doa Bapa Kami, Sepuluh Hukum Taurat dan Pengakuan Iman Rasuli. Pendidikan katekisasi sendiri dimulai pada tahun 1922, dan setahun kemudian dilakukan peneguhan anggota sidi gereja (61 orang), tepatnya pada tanggal 27 September 1923 oleh Inlandsch Leraar Titawano. Pada tanggal 4 Oktober 1923, perjamuan pertama kali dilaksanakan.&lt;br /&gt;Pada jaman pendudukan Jepang, jemaat Makatian pun merasakan dampak yang cukup besar. Mereka harus mengungsi ke Wesoir dan Welebit. Hal ini mengakibatkan beberapa dokumen jemaat seperti buku kelahiran dan buku nikah jemaat turut hilang. Tetapi peristiwa ini tidak berlangsung lama, karena peralihan kekuasaan dan Jepang sendiri tidak terlalu lama berkuasa di Makatian. Kembalinya mereka dari Wesoir dan Welebit, menunjukkan perkembangan yang positif, baik dari sisi pelayanan maupun perkembangan spiritual jemaat. Hingga saat ini jemaat Makatian adalah 100% warga Gereja Protestan Maluku&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Read More&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599533476917537716-8990182426478661231?l=lopuhaa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lopuhaa.blogspot.com/feeds/8990182426478661231/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lopuhaa.blogspot.com/2008/11/sejarah-perkemban-jemaat-gpm-makatian.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599533476917537716/posts/default/8990182426478661231'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599533476917537716/posts/default/8990182426478661231'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lopuhaa.blogspot.com/2008/11/sejarah-perkemban-jemaat-gpm-makatian.html' title='SEJARAH PERKEMBANGAN JEMAAT GPM MAKATIAN'/><author><name>Agus Lopuhaa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08707657824390767254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_Euu8TTQjEkw/SRqBK8H5dhI/AAAAAAAAAA4/wwqeGvzZoxw/S220/Love+Us.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Euu8TTQjEkw/SWvrVxrDguI/AAAAAAAAADI/CGHtr1ooO8U/s72-c/Makatian.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599533476917537716.post-8764098840019970680</id><published>2008-11-18T19:03:00.005+09:00</published><updated>2010-03-07T10:08:15.284+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pluralisme Agama'/><title type='text'>SIKAP-SIKAP DALAM KEHIDUPAN BERAGAMA</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Salah satu sikap yang menonjol dalam kenyataan kehidupan beragama adalah sikap yang eksklusif. Sikap ini sangat menonjol sebab banyak penganut agama yang melihat kehidupan keberagamaannya secara fundamental. Tetapi sikap ini bukanlah sikap yang satu-satunya. Secara umum ada tiga sikap terhadap kenyataan kehidupan beragama, yakni eksklusif, inklusif dan pluralis atau dialogis. Dalam pandangan eksklusif, kebenaran dan keselamatan hanya ada pada agamanya sendiri. Tidak ada kebenaran dan keselamatan dalam agama lain. Orang tidak akan diselamatkan kalau tidak mengakui agama saya. Agama-agama lain memang mempunyai banyak hal yang baik, tetapi tidak dapat memediasi keselamatan. Kalau sikap ini dikenakan pada agama Kristen, maka di luar Kristus atau gereja tidak ada keselamatan (extra eccllesiam nula salus). Dalam sikap ini ada upaya merendahkan agama-agama lain. Di samping itu jug dalam sikap eksklusif tidak melihat kenyataan, bahwa umat beragama bagaimanapun juga adalah manusiawi dan karena itu terbatas. Pandangan yang kedua adalah inklusif. Pandangan ini menerima kemungkinan adanya pewahyuan dalam agama-agama lain, yang juga menjadi mediasi keselamatan bagi mereka yang memeluknya. Namun keselamatan yang mereka terima melalui agama tertentu. Dengan kata lain, kalau dikenakan kepada agama Kristen, maka keselamatan dan kebenaran ada pada agama lain karena pekerjaan Kristus, sehingga mereka disebut sebagai Kristen Anonim. Mereka (agama-agama lain) sebenarnya adalah Kristen juga, tetapi mereka tidak mengetahuinya. Jika dibandingkan dengan sikap eksklusif, maka sikap ini lebih terbuka, akan tetapi ternyata tidak, karena kebenaran dan keselamatan dalam agama lain dilihat dalam kaca mata sendiri. Ada rasa simpati terhadap agama lain, tetapi kurang menempatkan agama lain sebagaimana dialami dan dipeluk oleh yang bersangkutan dengan kategori-kategori yang ada pada agama tersebut. Pandangan yang ketiga adalah pluralis atau dialogis. Pandangan ini beranggapan bahwa pada dasarnya semua agama memiliki kebenaran dan keselamatan, hanya pemahaman mereka saja yang berbeda-beda karena perbedaan budaya dan tradisi. Karenanya, semua agama dan penganutnya harus diterima sebagai agama yang benar pula. Dalam pandangan ini, pandangan dan sikap serta jati diri masing-masing dapat diungkapkan dan diperkembangkan. Yang diupayakan di sini adalah adanya perjumpaan visi dan orientasi yang hidup di antara umat beragama. Tidak ada yang dapat mengklaim bahwa agamanya yang paling benar. Namun kalau disikapi lebih lanjut, apakah yang akan dicapai oleh semua orang dengan sikap ini? Masalah yang akan muncul adalah mengapa seseorang harus peduli terhadap yang lainnya, karena kebenaran sudah ada pada orang tersebut? Akibatnya, yang terjadi adalah masing-masing berjalan sendiri-sendiri tanpa perlu terhadap yang lainnya. Pada akhirnya sikap ini tidak berbeda dengan sikap eksklusif.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Disamping ketiga pandangan di atas, John Cobb Jr. Menambahkan sikap keempat, yaitu transformatif. Menurutnya, sikap-sikap yang disebutkan sebelumnya mengandung dua kemungkinan, yaitu absolutisme dan relativisme. Absolutisme adalah pemutlakan kebenaran yang lain. Sedangkan relativisme adalah sikap yang menolak kemungkinan tercapainya konsensus dan harapan bagi suatu tindakan sehingga cenderung mempertahankan kegiatan-kegiatan yang tidak relevan dalam situasi kritis. Akibatnya terjadi pereduksian terhadap suatu pemahaman. Karena itulah transformasi kreatif diusulkannya baik kepada absolutisme maupun relevantisme dengan menyatakan kesiapan seseorang untuk terbuka bagi pembaharuan (transformasi) pemahamannya setelah berjumpa dengan kenyataan lainnya. Kesiapan untuk terbuka ini harus tuntas sampai kepada pemahaman baru tentang kebenaran. Di samping John Cobb, Jr., John Titaley mengatakan pandangan yang lain sebagai kelanjutan pandangan Cobb, yakni Inklusif-transformatif. Inklusif, karena menerima keberadaan yang lainnya, akan tetapi transformatif karena interaksi itu akan melahirkan transformasi pemahaman tentang Tuhan itu dalam diri masing-masing komunitas agama. Ketika itu terjadi, umat manusia akan berhubungan satu dengan yang lainnya dengan posisi yang berlainan dengan posisi mereka di masa lampau. Dalam posisi yang baru itu, terbuka peluang tercapainya perdamaian sejati.&lt;br /&gt;Dalam pandangan yang lain, Hans Kung mengemukakan empat kategori sikap orang terhadap agama lain. Ia menyebutkan strategi benteng, strategi mengabaikan perbedaan yang ada, strategi merangkul, strategi merangkul dan strategi ekumenis.&lt;br /&gt;1. Strategi Benteng.&lt;br /&gt;Strategi benteng berangkat dari anggapan bahwa hanya agama seseorang tertentu yang benar. Agama-agama lainnya tidak. Karenannya, perdamaian agama hanya akan dicapai lewat jaminan satu agama tertentu itu.&lt;br /&gt;2. Strategi Mengabaikan Perbedaan yang Ada&lt;br /&gt;Strategi ini berangkat dari asumsi bahwa masalah kebenaran secara esensial sebenarnya tidak ada, karena semua agama pada dasarnya benar dengan caranya sendiri-sendiri. Karenanya, perdamaian agama akan dicapai dengan baik apabila berbagai perbedaan dan kontrakdisi diabaikan.&lt;br /&gt;3. Strategi Merangkul&lt;br /&gt;Strategi merangkul beranggapan bahwa hanya satu agama saja yang benar, dan semua agama yang telah berkembang dalam sejarah memiliki sebagian kebenaran dalam satu agama yang benar itu. Karenanya, perdamaian agama akan dengan baik dicapai apabila da integrasi dari semua agama itu.&lt;br /&gt;Ketiga strategi di atas dinilai oleh Kung sebagai strategi yang tidak memberikan pemecahan terhadap persoalan hubungan antar agama. Oleh karenanya ia mengusulkan strategi keempat, yakni strategi ekumenis.&lt;br /&gt;4. Strategi Ekumenis&lt;br /&gt;Yang ingin Kung maksudkan di sini adalah suatu kriteria ekumenis bagi umat manusia, karena berbagai penyalahgunaan agama yang telah terjadi selama ini. Bagi Kung hanya ada satu kriteria itu, yaitu kemanusiaan (humanum) dalam prespektif di hadapan Yang Absolut.Dari berbagai sikap yang dikemukaan di atas, semua merujuk kepada satu bahwa Tuhan harus dilihat sebagai tujuan akhir dari agama-agama. Semua agama akan setuju dengan hal ini, sebab kebenaran yang absolut dalam agama-agama merupakan gambaran ideal dari pernyataan Tuhan. Hanya Tuhan saja yang memiliki kebenaran, dan kebenaran itu adalah mutlak.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Read More&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599533476917537716-8764098840019970680?l=lopuhaa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lopuhaa.blogspot.com/feeds/8764098840019970680/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lopuhaa.blogspot.com/2008/11/sikap-sikap-dalam-kehidupan-beragama.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599533476917537716/posts/default/8764098840019970680'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599533476917537716/posts/default/8764098840019970680'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lopuhaa.blogspot.com/2008/11/sikap-sikap-dalam-kehidupan-beragama.html' title='SIKAP-SIKAP DALAM KEHIDUPAN BERAGAMA'/><author><name>Agus Lopuhaa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08707657824390767254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_Euu8TTQjEkw/SRqBK8H5dhI/AAAAAAAAAA4/wwqeGvzZoxw/S220/Love+Us.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599533476917537716.post-3951678934902647776</id><published>2008-11-11T13:29:00.008+09:00</published><updated>2008-11-24T16:53:56.031+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pluralisme Agama'/><title type='text'>REALITAS BERAGAMA DI INDONESIA</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_Euu8TTQjEkw/SRkiF7-B_qI/AAAAAAAAAAM/b2cZ4taLrdE/s1600-h/br.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;Oleh: Agus Lopuhaa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pluralisme Sebagai Tantangan Bersama &lt;br /&gt;Bhineka Tunggal Ika: beraneka ragam, tetapi satu jua. Semboyan nasional ini dengan tepatnya menjelaskan realitas yang paling dalam dari Indonesia. Ia mencerminkan tekad untuk bersatu dari masyarakat yang mungkin merupakan masyarakat paling heterogen di dunia. Dan tekad untuk bersatu itu mencerminkan adanya ciri kebudayaan yang sama, di balik kemajemukan yang mencolok. Kebhinekaan atau kemajemukan Indonesia sepintas lalu memang jauh lebih menonjol dari kesatuannya. Oleh karena itu, bahaya disintegrasi selalu merupakan ancaman, baik riil maupun potensial. Kondisi objektif Indonesia telah membuat kesatuan dan integrasi sosial maupun nasional merupakan sesuatu yang sulit. Suatu kesan yang paling menonjol tentang negeri ini adalah kemajemukannya baik secara geografis maupun etnis. Tercatat ada sekitar 17.667 pulau besar dan kecil; serta 300 kelompok etnis dan 50 bahasa yang berbeda. Belum lagi termasuk keturunan Cina, Arab, India yang telah hidup lama. Di samping itu, dari sisi keagamaan, hidup agama-agama besar dan agama suku; juga dari sisi ekonomi, sistem sosial dan politik. Tentu saja hal ini sebenarnya berlaku juga bagi banyak negara di dunia ini. Namun, apa yang relatif khas pada Indonesia adalah komposisi dari kemajemukan primordialnya, pluralitas strukturalnya, serta kurangnya mekanisme penengah pada mana disintegrasi yang amat potensial itu berakar dan bermuara.&lt;br /&gt;Pluralitas keagamaan adalah sebuah realitas dalam kehidupan masyarakat Indonesia dengan berbagai dimensinya. Secara garis besar, pluralisme keagamaan dapat dilihat dari kehadirannya berbagai agama yang menjadi anutan bangsa Indonesia; dan juga dalam masing-masing intern umat beragama sendiri terdapat berbagai aliran pemahaman dan pelembagaan keagamaan. Kedua fenomena ini dengan sendirinya menimbulkan problematikanya masing-masing yang cukup kompleks. Dasar dari pluralisme agama adalah sebagai akibat dari cara merespons penyataan Tuhan. Bahwa sesungguhnya agama berawal dari kesadaran manusia tentang relasinya dengan suatu kuasa yang transendental yang dialaminya secara nyata, baik itu melalui gejala alam, atau melalui daya pikir. Dengan demikian, Tuhan menyatakan diri melalui berbagai jalan, yang merupakan respons manusia terhadap diriNya. Respons itu terjadi dalam hubungan dengan konteks sosial di mana pemahaman itu berkembang. Pemahaman yang berkembang dalam realitas budaya yang berbeda itulah yang melahirkan agama, yang di dalamnya telah menciptakan pluralisme.&lt;br /&gt;Di Indonesia hidup dan berkembang agama-agama besar dunia. Agama Islam berkembang dengan merata di seantero Nusantara sebagai anutan mayoritas rakyat Indonesia. Agama Kristen, baik Katolik maupun Protestan, datang secara lebih terorganisasi yang sekaligus memperkenalkan sistem organisasi modern kepada masyarakat Indonesia. Agama Hindu yang pertama kali datang memperkenalkan kehidupan berpemerintahan melalui sistem kerajaan yang melampaui batas-batas lokal. Agama Budha meninggalkan berbagai warisan monumental antara lain candi Borobudur dan lainnya. Kedatangan orang-orang Cina juga membawa agama Kong Hu Cu, yang dianut oleh masyarakat Tionghoa maupun penduduk lokal. Tidak sebatas agama-agama besar yang berasal dari luar saja, masih ada juga agama-agama asli/suku yang berkembang seiring dengan perkembangan agama-agama besar, walaupun tidak sehebat perkembangan agama-agama besar.&lt;br /&gt;Semua hal yang telah dikemukakan di atas menunjukkan bahwa betapa pluralisme merupakan tantangan bersama. Oleh karena pluralisme merupakan sebuah fakta, dengan demikian tantangan yang dihadapi oleh masyarakat harus dihadapi secara bersama pula. Dan untuk menghadapi tantangan bersama itu, maka yang dibutuhkan adalah prinsip untuk saling menghargai, bahkan prinsip untuk selalu membangun hubungan (dialog) dengan orang lain. Dengan demikian, jika pluralisme adalah adanya hubungan saling bergantung antar berbagai hal yang berbeda, maka dalam pluralisme mengharuskan adanya dialog antar berbagai komponen masyarakat, entah itu agama, budaya dan sebagainya. Di dalamnya, keutuhan dan kebersamaan dijadikan sebagai acuan dalam membangun sebuah hubungan yang saling bergantung itu. Ketergantungan itu adalah prinsip hidup saling menghargai, tanpa harus melihat latar belakang apapun; saling menghargai perbedaan dan bukannya saling menyerang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Realitas Beragama dalam Masyarakat Majemuk&lt;br /&gt;Salah satu masalah yang muncul dalam bangsa-bangsa yang tidak homogen secara agama, seperti Indonesia, adalah hubungan antara agama dan politik. Masyarakat menciptakan sistem politiknya, telah melibatkan agama-agama ke dalamnya, demikian sebaliknya politik telah diteologisasi. Di masa lampau, juga saat ini, ketika pembangunan bidang ekonomi Indonesia merupakan target kedua atau ketiga dan interese politik serta pertentangan ideologis lebih banyak memberikan warna pada kegiatan pembangunan, maka kedudukan agama pun sentral dalam pertentangan ideologis-politis tersebut. Di saat itu, agama-agama berhadapan sebagai lawan politik yang tak bisa dihindari. Ia bahkan dimanipulasi sebagai dasar legitimasi dari pertentangan-pertentangan politik tersebut dengan perbedaan aspirasinya yang hampir absolut karena didukung oleh suatu semangat keagamaan yang absolut sifatnya.&lt;br /&gt;Kenyataan ini telah menyadarkan setiap orang akan intensitas inter-penetrasi antara agama dan politik. Inter-penetrasi itu terjadi antara lain oleh karena kesadaran akan pentingnya kedua bidang hidup tersebut, dilihat dari segi politik, agama dianggap penting dan tidak bisa diabaikan, sebaliknya dari segi agama, politik dianggap semakin menentukan keberadaannya. Di satu pihak terjadi proses teologisasi politik, di mana politik dipikirkan dalam perspektif tanggung jawab etis-teologis; dengan peran korektif serta peran profetis agama-agama sebagai pendamping yang kritis terhadap dunia politik. Di pihak lain juga terjadi proses politisasi agama, di mana agama-agama hendak ditempatkan dalam kerangka tujuan serta aspirasi politik tertentu. Secara praktis maka dapat disaksikan bahwa kaitan antara pemerintah dan agama semakin erat. Erat dalam arti positif, tetapi juga negatif. Positif dalam arti bahwa keadaan itu menyebabkan terjadinya suatu interaksi dinamis dan bebas antara politik dan agama, sehingga keduanya bisa bertumbuh dewasa. Sedangkan negatif dalam arti apabila keduanya saling berhadapan selaku kekuatan ideologis yang absolut dan memaksa; dalam hubungan ini kehidupan politik bisa menjadi otoriter dan kehidupan agama tidak mampu melakukan perannya selaku sendi-sendi utama kekuatan moral masyarakat.&lt;br /&gt;Bila terjadi hal demikian, agama-agama akan semakin kehilangan alasannya untuk tampil sebagai kekuatan korektif dalam masyarakat. Bukan hanya otonomi dan independensinya yang kian menipis, akan tetapi bersamaan dengan itu sumbangannya dalam kehidupan moral tidak akan bisa banyak diharapkan. Pada gilirannya apabila agama-agama semakin kehilangan dayanya sebagai kekuatan moral, maka dalam masyarakat akan hidup nilai-nilai yang dangkal dan lemah. Dengan itu masyarakat akan lekas lelah secara moral dan menyukai kekerasan. Apa yang diharapkan dari agama-agama adalah sebuah proses pemikiran ulang dengan memberikan perhatian kepada soal-soal kemanusiaan bersama, sekalipun tetap dengan menggali kaidah etik dan moral dari agama. Pendekatan terhadap berbagai realitas masyarakat yang majemuk harus lebih terbuka, yaitu memandang diri sendiri selaku faktor komplementer dari kebulatan persoalan kemanusiaan yang lebih besar dan komprehensif. Tidak lagi membangkitkan semangat primodial yang menimbulkan sifat-sifat tertutup terhadap unsur-unsur luar yang dianggap asing dan mengancam. Yang dibutuhkan adalah memikirkan hubungan antar agama dalam suatu semangat untuk memikirkan makna pluralisme secara lebih serius dalam tradisi keagamaan masing-masing. Juga upaya membangun kembatan-jembatan spiritual-intelektual untuk memikirkan kembali relasi-relasi antara agama yang lebih sesuai dengan konteks persoalan kemanusiaan yang lebih mendesak dan menentukan pada masa sekarang ini.&lt;br /&gt;Bagi masyarakat majemuk seperti Indonesia, upaya untuk merumuskan kesepakatan demi kesepakatan nilai tidak semudah membalik telapak tangan. Setiap masyarakat selalu mempunyai kecenderungan besar untuk mempertahankan keunikannya, entah itu agama, budaya dan sebagainya. Sebabnya karena eksistensi suatu masyarakat itu amat ditentukan oleh kemampuannya mempertahankan integritas/keutuhannya. Upaya untuk mempertahankan integritasnya itu dilakukan secara alamiah, ketika ia menghadapi tantangan atau desakan peradaban dari luar. Namun jika upaya menghindari ini terus dilakukan, maka upaya ini akan membawa Indonesia secara pelan namun pasti ke arah disintegrasi. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Read More&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599533476917537716-3951678934902647776?l=lopuhaa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lopuhaa.blogspot.com/feeds/3951678934902647776/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lopuhaa.blogspot.com/2008/11/realitas-beragama-di-indonesia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599533476917537716/posts/default/3951678934902647776'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599533476917537716/posts/default/3951678934902647776'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lopuhaa.blogspot.com/2008/11/realitas-beragama-di-indonesia.html' title='REALITAS BERAGAMA DI INDONESIA'/><author><name>Agus Lopuhaa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08707657824390767254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_Euu8TTQjEkw/SRqBK8H5dhI/AAAAAAAAAA4/wwqeGvzZoxw/S220/Love+Us.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
